Pencari Senyum. Diberdayakan oleh Blogger.

-

slide photo

Entri Populer

Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan

Minggu, 20 Maret 2011

FAKTA TERBARU DAMPAK GLOBAL WARMING BERDAMPAK PADA UKURAN ( SIZE) IKAN.

Hasil penelitian Oleh Martin Daufresne ,Mengungkapkan Bahwa Ikan telah Kehilangan Sebagian Bobot Tubuhnya akibat perubahan iklim ,Ukuran (size) merupakan karakteristik dasar yang berhubungan langsung dengan sebagaian besar fungsi biologis,seperti kesuburan dan kemampuan untuk bereproduksi.dengan mengabaikan factor lainya.
Penelitian Yang dipublikasikan dalam Proceedings Of The National Academy of sciences itu membuktikan temperature secara nyata memainkan peran utama dalam mendorong perubahan dalam struktur ukuran populasi dalam komunitas.
Banyak Jenis ikan mengubah wilayah geografis dan migrasi serta pola kembang biak mereka dalam sebagai respon terhadap kenaikan temperatur air. Dauferesme telah menguji dengan metode survey dalam jangka waktu yang lama di sungai , aliran sungai dan di laut Baltik dan laut utara serta melakukan penelitian terhadap bakteri dan plankton .
Penelitian dari daufresmen juga menemukan beberapa spesies ikan telah kehilangan 50% dari rata-rata bobot tubuhnya lebih dari 20-30 tahun yang lalu, begitupun dengan rata-rata tangkapan yang turun hingga 60 %.
Bisakah Penelitian Ini dilakukan Oleh Mahasisiwa dengan Fakta terbaru Jenis Ikan banyak yang mengubah wilayah geografis dan migrasi dengan salah satu judul
Dampak perubahan wilayah migrasi dan geografi terhadap daerah penangkapan di Perairan Spormonde ?? Dan Juga Menentukan Wilayah Geografis dan migrasi Ikan Jenis Tuna sirip kuning dengan perubahan Global Warming Di Teluk Bone Makassar.
Pertanyaan dari Fakta terbaru Ini…
Apakah Peruhan Ukuran bobot Jenis ikan hasil tangkapan Dipengaruhi oleh Banyaknya Upaya Penangkapan Atau Pengaruh dari Pemanasan Global ( Global Warming) ???
Mohon Dibalas….Bagi yang Mempunyai Kepampuan Dan Wewenang Dalam Permasalah Ini Makasih
Salam…Dan terimah kasih..

SUDARMAN FISHERY UNHAS MAKASSAR BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Sabtu, 19 Maret 2011

Tahun 2011, ekspor rumput laut bisa tumbuh 57,89%


JAKARTA. Ekspor sepertinya bakal terus menggeliat pada . Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan volume ekspor sebanyak 180.000 ton naik 57,89% dari realisasi tahun lalu yang sebanyak 114.000 ton. Dari sisi nilai juga bakal naik menjadi US$ 190 juta dari nilai ekspor tahun lalu yang sebesar US$ 138 juta.

Victor Nikijuluw, Sekretaris Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (DJP2HP) mengatakan, kenaikan target ekspor tersebut setidaknya disebabkan 3 faktor. Pertama, permintaan dunia atas sangat tinggi. Di China misalnya, jumlah pabrik pengolahan telah mencapai 600 pabrik.

Kondisi ini otomatis bakal mengerek permintaan di sana. “Tahun lalu saja kita memasok 85% kebutuhan China,” ujar Victor, (4/1).

Kedua, produksi negara-negara penghasil terutama di kawasan Amerika Latin seperti Chili terhambat akibat badai La Nina. Victor bilang pasokan dari sana menurun drastis sejak awal tahun lalu. Akibatnya, banyak permintaan yang biasanya dipenuhi Chili menjadi tidak terpenuhi. “Ini bakal jadi peluang pasar baru bagi kita,” jelasnya.

Di sisi lain, produksi tahun 2010 sebanyak 3,082 juta ton melampaui target awal yang sebanyak 2,574 juta ton. Di , produksi ditargetkan sebanyak 3,504 juta ton. “Dengan produksi sebanyak ini, kita optimis ekspor juga bakal terus meningkat,” ujar Victor.

KKP juga bakal melebarkan tujuan ekspor . Selama ini, tujuan ekspor hanya ke China dan sebagian ke Filipina. Mulai tahun ini, pemerintah juga mulai melirik pasar Eropa dan Amerika Serikat. “Permintaan dari sana juga sudah mulai bagus,” ujar Victor.

Untuk menambah nilai tambah nasional, pemerintah berencana membatasi ekspor mentah pada tahun 2012 mendatang. Selama ini, ekspor sekitar 80%-nya dalam bentuk mentah. Ke depannya pemerintah bakal membatasi ekspor tersebut, sekaligus menggenjot industri pengolahan nasional.

Arman Arfah, Asosiasi Petani & Pengelola (Aspperli), mengatakan KKP sebaiknya jangan terlalu muluk-muluk menetapkan kenaikan produksi maupun ekspor. Menurutnya, banyak hambatan seperti cuaca ekstrem yang menghadang petani dan pengusaha dalam membudidayakan .

Sejak tahun lalu, eksportir nasional kerap kesulitan mendapatkan sebagai bahan baku ekspor karena di beberapa daerah banyak yang gagal panen. “Saya harap pemerintah lebih realistis menetapkan target. Lihat juga kondisi lapangan,” kata Arman. Meski begitu, Bayu mengingatkan dalam melaksanakan ISPO ini setidaknya ada 4 tantangan yang harus dihadapi.

BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Jumat, 18 Maret 2011

Permintaan tinggi, ekspor udang bakal naik 27,92%JAKARTA. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan nilai ekspor udang tahun ini bisa menca


JAKARTA. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan nilai ekspor udang ini bisa mencapai US$ 1,315 miliar, naik 27,92% dibandingkan 2010 yang sebanyak US$ 1,028 miliar.

Saut Hutagalung, Direktur Pemasaran Luar Negeri KKP mengatakan, target ini didasarkan pada tingginya permintaan udang di beberapa negara terutama Jepang dan . Jepang sebagai salah satu tujuan utama ekspor, terus meningkatkan permintaannya dari ke . “Permintaan dari sana terutama untuk jenis udang windu,” ujar Saut kepada KONTAN, Rabu (23/2).

, sebagai negara populasi terbesar di dunia, juga meningkatkan permintaannya. Saut bilang, ini Cina membutuhkan sekitar 1 juta ton udang. Ini terkait meningkatnya konsumsi udang di sana. Pemerintah juga kian memacu industri pengolahan udangnya, akibatnya permintaan dari sana semakin tinggi.

Ini bakal menjadi peluang bagi untuk mengekspor udangnya ke sana. “Kalau kita bisa ekspor 300.000 ton saja ke sana, target ekspor ini tidak akan sulit tercapai,” kata Saut.

Untuk mencapai target itu, KKP juga ancang-ancang menjalin kerjasama pemasaran importir . Ini penting untuk mempermudah akses masuknya udang asal ke pasar .

Selain memacu ekspor ke , pasar-pasar utama udang seperti Amerika Serikat (AS), Jepang dan Eropa akan tetap dipertahankan. “Negara-negara itu pasar tradisional ekspor udang kita,” jelas Saut..

Kondisi inilah yang berpotensi menghambat kinerja ekspor udang ini. Saut bilang, kebutuhan industri pengolahan udang ini sebenarnya sangat banyak yaitu sekitar 470.000 ton. Melihat produksi udang lalu, jelas industri pengolahan nasional kekurangan bahan baku.

Saut bilang, ekspor udang terutama untuk produk olahannya itu tidak akan pernah lesu, karena permintaannya terus tinggi. “Kini, semuanya tergantung pada sisi produksinya,” kata Saut.

Sebelumnya, Ketut Sugama, Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Perikanan Budidaya KKP, menyatakan produksi udang ini ditargetkan sebesar 450.000 ton, naik 27,62% dibandingkan realisasi lalu. Untuk itu, KKP kian gencar membuat program untuk mengatasi virus IMNV.

Iwan Sutanto, Ketua Shrimp Club (SCI), menambahkan penambak juga optimistis dapat mengatrol produksi udang ini. Faktor stimulus akibat melonjaknya udang menjadi alasannya.

Seperti diberitakan KONTAN (18/2), udang jenis vanname Februari ini mencapai rekor tertinggi dalam 10 terakhir yaitu mencapai Rp. 50.000-Rp. 60.000 per kg.

Padahal, di waktu normal udang paling banter bertengger di kisaran Rp. 37.000-Rp. 38,000/kg. “Ini menjadi stimulus bagi kita untuk memacu produksi, karena penambak bisa mendapatkan margin keuntungan yang lebih besar,” ujar Iwan kepada KONTAN, beberapa waktu lalu.

BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Kamis, 17 Maret 2011

Produksi Gurami tahun ini dibayang-bayangi serangan virus


JAKARTA. Pembudidayaan nasional pada 2011 terancam oleh virus. Saat ini, wabah menyerang sentra budidaya nasional terutama di Kabupaten , Jawa Tengah.

Ketut Sugama, Pelaksana Tugas (plt) Direktur Jenderal Budidaya Kementerian Kelautan dan (KKP) mengatakan virus-virus tersebut sudah mulai menyerang sejak pertengahan tahun 2010 lalu. “Ini berpotensi menghambat produksi ,” ujar Ketut kepada KONTAN, akhir pekan lalu.

Virus dan penyakit yang menyerang itu ada beberapa macam, seperti noda virus, dactylogyrus dan gryodactylus. Noda virus sebenarnya bukan varian virus yang baru ditemukan. Virus ini sudah sejak lama ditemukan menyerang baik yang dibudidayakan di air tawar maupun di laut. Noda virus biasanya menyerang otak, mata dan saraf tulang belakang . Efeknya, yang terserang menjadi disorientasi dan stres. “ jadi sering melamun yang akhirnya bisa mati,” kata Ketut.

Berbeda dengan noda virus, dactylogyrus merupakan cacing parasit yang tumbuh akibat kualitas air tambak yang buruk dan kurangnya pemberian pakan. Virus ini biasanya menyerang insang guram yang kemudian membuat nafsu makan menurun. juga sering terlihat berbaring dengan posisi insang terbuka. Sedangkan gyrodactylus adalah virus yang menyerang bagian sirip . Seperti halnya dactylogyrus, virus ini juga menurunkan nafsu makan dan membuat stres .

Meski serangan virus tersebut cukup besar, Ketut optimis produksi tahun ini bakal tetap naik menembus angka 75.000 ton. Target awal produksi tahun 2011 sebenarnya hanya 40.300 ton. Namun, KKP merevisi target tersebut menjadi 75.000 ton, didasarkan realisasi produksi tahun 2010. Tahun lalu produksi sebanyak 74.912 ton, melampaui target awal sebanyak 40.300 ton. “Kami yakin hal yang sama bakal terjadi tahun ini, karena itu kami tingkatkan targetnya,” kata Ketut.

Untuk mencapai target itu, KKP telah membuat program untuk menggenjot produksi sekaligus mengatasi serangan virus. Ketut bilang pihaknya telah membangun Kampung di , Jateng. adalah sentra utama yang menopang kebutuhan nasional. Nantinya, KKP bakal menggalakkan riset, eksperimen dan pembenihan di sana yang kemudian hasilnya bakal disebar ke seluruh sentra produksi. “Kita ingin produksi tidak hanya di ,” tandas Ketut.

Berkenaan dengan upaya mengatasi serangan virus, KKP terus memperbarui teknik pengelolaan kolam. KKP terus mengedukasi pembudidayaan agar membersihkan kolam secara teratur dan mengatur temperatur air agar dapat mencegah penyebaran virus dalam skala yang lebih luas.

Upaya lain adalah dengan mengganti induk . Ketut bilang pihaknya akan mengganti seluruh induk di seluruh sentra budidaya. Induk yang terdahulu biasanya sudah terinfeksi virus, sehingga sangat berisiko jika terus digunakan. “Kalau diganti yang baru, pasti bakal menurunkan penyebaran virus di kolam ,” tandas Ketut.

Thomas Dharmawan, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Indonesia (AP5I), mengatakan produksi memang harus terus digenjot untuk menopang permintaan yang terus meningkat.

Menurutnya, peningkatan permintaan ini ditopang oleh pertumbuhan restoran dan warung makan bernuansa daerah yang kian menjamur akhir-akhir ini. “Mereka biasanya membutuhkan dalam keadaan segar atau bahkan masih hidup,” ujar Thomas, kepada KONTAN, (6/1).

Komposisi untuk ekspor, lanjut Thomas, sejauh ini terbilang minim akibat harganya yang lebih mahal dibanding dengan negara lain seperti Vietnam dan Filipina. Thomas bilang harga pakan yang tinggi di Indonesia menjadi penyebab tidak kompetitifnya harga di pasar ekspor.

Sekedar informasi, harga pakan di Indonesia bisa mencapai Rp 7.000 per kilogram (kg). Padahal, harga pakan di Vietnam dan Filipina hanya sekitar Rp 4.000-Rp 5.000/kg. Akibatnya, permintaan asal Indonesia di pasar ekspor cenderung rendah. “Wajar saja jika pengusaha lebih memilih menjual di dalam negeri ketimbang mengekspornya,” tandas Thomas.

BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Rabu, 16 Maret 2011

Tahun Ini, KKP bakal bangun 6 gudang rumput laut di Maluku

JAKARTA. Sebagai realisasi dari Sail Banda 2010, Kementerian dan (KKP) berencana membangun 6 (enam) gudang dan tempat pengeringan rumput berkapasitas masing-masing 300 ton per hari di . Victor Nikijuluw, Sekretaris Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil (DJP2HP) KKP, menyatakan pembangunan gudang rumput ini merupakan cara pemerintah untuk menggenjot industri pengolahan rumput .1419415447p Tahun Ini, KKP bakal bangun 6 gudang rumput laut di Maluku

Pembangunan gudang rumput ini sangat untuk menjemur dan menyimpan stok rumput gelondongan yang melimpah di . Sekadar informasi, menurut Ketut Sugama, Direktur Jenderal Budidaya KKP, bersama Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Gorontalo selama ini merupakan daerah lumbung produksi rumput Indonesia. “ sendiri menyumbang sekitar 15% produksi nasional rumput kita,” kata Ketut.

Victor menambahkan ke depanya gudang-gudang ini juga direncanakan akan menjadi penopang bahan baku bagi pabrik-pabrik pengolahan rumput skala kecil di . Selama ini, sekitar 85% rumput Indonesia digunakan untuk dalam bentuk gelondongan. Yang digunakan untuk industri pengolahan rumput masih sangat sedikit. “Akibatnya dari sisi nilai, industri rumput kita belumlah terlalu besar,” kata Victor.

BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Virus tertangani, produksi ikan mas bakal tembus 380.000 ton


JAKARTA. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), menargetkan produksi ikan mas tahun ini bakal tembus 380.000 ton.

Ketut Sugama, Pelaksana Tugas (plt) Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, mengatakan proyeksi awal produksi ikan mas 2011 sebenarnya hanya 280.400 ton. “Tapi melihat realisasi produksi yang melampaui target, kita merevisi target tahun ini,” ujar Ketut kepada KONTAN, Selasa (8/1).

Sekadar catatan, produksi ikan mas pada 2010 sebanyak 374.112 ton. Angka ini telah melampaui target awal yang hanya dipatok sebanyak 267.100 ton.

Optimisme peningkatan produksi ikan mas tahun ini karena peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) telah berhasil menemukan vaksin menangani Koi Herpes (KHV) yang menyerang ikan mas. ini sudah banyak tersebar di Eropa, Jepang, China dan .

ini sangat mematikan. Berdasarkan data KKP, pada akhir tahun 2004 ini telah menyebabkan kematian 9 juta ekor ikan mas di seluruh .

KKP juga bakal membantu pengadaan benih ikan mas unggul seperti jenis rajadano, sinyonya dan majalaya. Benih-benih itu bakal disebar ke seluruh sentra budidaya ikan mas terutama di Jawa Barat, Bengkulu dan Manado. Selama ini, pembudidaya di sana kerap kesulitan mendapatkan benih unggul. “ itu, kami bantu pengadaan benih agar produksi dapat terus digenjot,” jelas Ketut.

Saut Hutagalung, Direktur Pemasaran Luar Negeri KKP , pasar ikan mas ekspor hampir tidak ada karena sudah sepenuhnya diserap pasar lokal. Permintaan dari luar juga relatif sedikit sehingga KKP mengarahkan ini konsumsi domestik. “Konsumsi ikan mas paling tinggi di Jawa Barat, terutama oleh restoran-restoran di sana,” ujar nya, Selasa (9/1).

Thomas Darmawan, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan (AP5I), mengatakan penyerapan ikan mas industri pengolahan juga masih sedikit. Pengusaha belum memiliki teknologi yang memadai mengolah ikan mas.

Selain itu, permintaan produk olahan ikan mas juga kurang bagus, karena masyarakat lebih suka membeli ikan mas dalam keadaan hidup atau masih segar. “Tapi tidak menutup kemungkinan juga kita bakal mengolah ikan mas di tahun-tahun mendatang,” tandas Thomas kepada KONTAN.

BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Jumat, 11 Maret 2011

KKP NAIKKAN TARGET PRODUKSI IKAN 2011

(Kominfo-Newsroom) Kementerian Kelautan danPerikanan (KKP) menargetkan sasaran produksi ikan tahun 2011mencapai 12,26 juta ton. Angka ini meningkat 13% dari produksitahun lalu, 10,85 juta ton.

Peningkatan produksi itu mengikuti kenaikan tingkat konsumsiikan hingga akhir 2010. Tahun 2010, tingkat konsumsi ikan mencapai30,47 kg perkapita, meningkat dibandingkan konsumsi 2009 sebesar29,08 kg perkapita, kata Menteri Kelautan dan Perikanan FadelMuhammad dalam Diskusi Majalah Trobos: Outlook Perikanan Tahun2011, di Jakarta, Senin (7/2).

Menurut data KKP, produksi perikanan tahun 2010 mencapai 10,83juta ton, meningkat sebesar 10,29% dibandingkan tahun 2009 yangbesarnya 9,82 juta ton. Sedangkan target produksi perikanan untuktahun 2014 diharapkan mencapai 22,39 juta ton, khusus perikananbudidaya 16,89 juta ton.

Dukungan konsumsi dalam negeri sangat diperlukan untuk membangunalur pemasaran produk yang kuat. Hal ini bisa membangun kepercayaandiri pelaku usaha sektor perikanan dari hulu sampai ke hilir.Peningkatan konsumsi ikan diyakini dapat meningkatkan kesejahteraanmasyarakat, khususnya pelaku usaha perikanan.

Selain masalah ketersediaan, ikan memiliki banyak keunggulandibanding protein hewani lainnya. Ikan memiliki kandungan nutrisiyang relatif aman untuk balita hingga manula. Kandungan omega 3, 6,dan 9 pada ikan memberikan beberapa manfaat seperti tumbuh kembangbayi lebih cepat, balita lebih aktif dan cerdas, serta membuat dayatahan tubuh lebih kuat.

Memasak ikan pun tidak membutuhkan energi yang banyak. Keragamanjenis ikan memberikan pilihan bagi konsumen dari berbagai lapisanmasyarakat. Ada banyak jenis ikan yang memiliki harga lebih murahdibanding sumber protein hewani yang lain.

Dalam upaya menciptakan pangan sebagai ideologi, perikananbudidaya melakukan kegiatan berupa perbaikan keamanan pangan (foodsafety) dari hulu ke hilir dan pengawasan mutu produk impor danekspor perikanan. Para pembudidaya harus menerapkan Cara BudidayaIkan yang Baik (CBIB), yaitu pembudidaya akan diberikan sertifikasihasil penilaian secara objektif dan transparan, sehingga dapatmeningkatkan kepercayaan baik produsen maupun konsumen.

Pada gilirannya akan meningkatkan daya saing produk perikananbudidaya. Sampai dengan tahun 2010, dari sebanyak 650 unit usahadisertifikasi, sebanyak 341 unit usaha yang bersertifikat yangtersebar di 22 provinsi dalam kategori Pokdakan (79 unit),Perorangan (130 unit) dan Badan Usaha (132 unit), papar Fadel.

Sedangkan dalam mendukung penerapan sistem jaminan mutu,diperlukan standar mengenai sistem operasional budidaya perikananyang supaya hasil yang diperoleh memenuhi kriteria mutu sesuaipermintaan pasar dan keamanan pangan. Selain itu, dalam upayapeningkatan mutu produk, diperlukan standar di Indonesia berupa SNI(Standarisasi Nasional Indonesia) yang diakui secarainternasional.

Standar disusun dan dirumuskan melalui tahapan yang telah diaturoleh BSN dengan prinsip perumusan, yaitu standar dilaksanakansecara terbuka, transparan, tidak memihak, efektif, koheren dankonsensus. Jumlah SNI Perikanan Budidaya pada tahun 2010 yang telahditetapkan penomorannya sebanyak 11 SNI yang terdiri dari 2 SNIpengemasan udang vaname, 3 SNI produksi rumput laut cottoni, 1 SNIproduksi rumput laut gracilaria, 5 SNI metode uji.
BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Kamis, 10 Maret 2011

Dana Bagi Hasil Perikanan 2011 Capai Rp120 Miliar

JAKARTA--MICOM: Kementerian Keuangan memperkirakan alokasi dana bagi hasil sumber daya alam perikanan tahun anggaran 2011 mencapai Rp120 miliar.

Informasi yang dihimpun dari situs Kementerian Keuangan di Jakarta, Kamis (10/2), menyebutkan, penyaluran dana bagi hasil sumber daya alam (DBH SDA) perikanan ke masing-masing daerah dilaksanakan secara triwulanan.

Penyaluran DBH SDA perikanan triwulan I dan triwulan II masing-masing dilaksanakan sebesar 15 persen dari pagu perkiraan alokasi DBH SDA perikanan masing-masing daerah.
Penyaluran DBH SDA perikanan selanjutnya diperhitungkan dengan realisasi penerimaan DBH SDA perikanan triwulan III dan triwulan IV.

Alokasi DBH SDA perikanan untuk masing-masing daerah tahun anggaran 2011 adalah merupakan perkiraan. Dalam hal pagu atas perkiraan alokasi DBH SDA perikanan yang ditetapkan dalam tahun anggaran 2011 tidak mencukupi kebutuhan penyaluran atau realisasi melebihi pagu dalam tahun anggaran 2011, pemerintah menyalurkan alokasi DBH SDA perikanan berdasarkan realisasi penerimaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Perkiraan alokasi DBH SDA perikanan itu ditetapkan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 258/PMK.07/2010. Selanjutnya dalam lampiran PMK itu dirinci perkiraan alokasi DBH SDA perikanan untuk masing-masing provinsi dan kabupaten/kota. Misalnya untuk DKI Jakarta sebesar Rp1,45 miliar, Jawa Barat Rp6,28 miliar, Banten Rp1,93 miliar, Jawa Tengah Rp8,45 miliar, DI Yogyakarta Rp1,21 miliar, Jawa Timur Rp9,18 miliar, Sulawesi Selatan Rp5,79 miliar, dan Sulawesi Barat Rp1,21 miliar.

Perikanan merupakan salah satu dari DBH SDA. Lainnya adalah DBH SDA Minyak dan Gas, DBH SDA Pertambangan Umum, DBH SDA Kehutanan, dan DBH SDA Pertambangan Panas Bumi. Dana bagi hasil kehutanan berasal dari Iuran Izin Usaha Pemanfaatan Hutan (IIUPH), Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH), dan Dana Reboisasi (DR).

Dana bagi hasil pertambangan umum berasal dari Iuran Tetap (land rent) dan Iuran Eksplorasi dan Iuran Eksploitasi (royalty). Dana bagi hasil perikanan sumbernya dari Pungutan Pengusahaan Perikanan dan Pungutan Hasil Perikanan.
BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Rabu, 09 Maret 2011

KEMBANGKAN KELAUTAN & PERIKANAN, KKP KERJASAMA DENGAN 3 NEGARA

Indonesia dan India sepakat untuk bertukar pengalaman di bidang perikanan budidaya, perikanan tangkap, pengolahan produk perikanan, serta dalam penyebarluasan data informasi cuaca bagi nelayan Indonesia. Kesepakatan tersebut tertuang dalam perpanjangan nota kesepahaman kerja sama kelautan dan perikanan RI – India yang ditandatangani bersama antara Presiden RI dan Perdana Menteri India pada tangal 25 Januri 2011 kemarin, demikian diungkapkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad, dalam jumpa pers yang digelar di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) (31/01).

Sebelumnya pada tanggal 24 januari 2011, Fadel dalam pertemuan dengan Minister of Earth Sciences Republic of India, Pawan Kumar Bansal, menyepakati sikap kedua negara dalam merespon perubahan iklim. Indonesia dan India lewat Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Ministry of Earth Sciences juga menyepakati perlunya penelitian lebih lanjut terhadap peran laut didalam perubahan iklim global. Menurut Fadel, kerjasama kedua negara dalam penelitian dan pengembangan di bidang kelautan meliputi marine productivity, marine ecosystem health research and monitoring, climate change joint research and observation, marine resources management and applications. Selain itu kerjasama juga dilakukan di bidang coastal and environmental engineering, serta hatchery production of Marine ornamental Fishes.

India merupakan salah satu Negara berpenduduk terbesar di dunia sehingga merupakan pasar potensial produk perikanan Indonesia tegas Fadel. Untuk itu, Indonesia akan meningkatkan kerjasama dalam industri pengolahan tuna. Selain itu, India meminta Indonesia untuk melakukan transfer teknologi budidaya ikan laut. Disamping itu, India juga berencana untuk melakukan investasi pengolahan rumput laut di Luwuk dan Banggai, Propinsi Sulawesi Tengah.

Usai melakukan kunjungan kerja ke India, Fadel juga melakuan lawatan ke Sri Lanka. Dalam pertemuan dengan Menteri Perikanan dan Sumberdaya Perairan Sri Lanka, Dr Rajitha Seranatne, dibahas mengenai pentingnya kerjasama kedua negara di sektor kelautan dan perikanan. Sri Lanka juga meminta Indonesia untuk melakukan kerjasama dalam mengelola sumberdaya perikanan di Samudera Hindia dan mengembangkan budidaya perikanan di daerah pantai, khususnya untuk jenis timun laut, rumput laut dan ikan bersirip. Menanggapi permintaan tersebut Fadel mengatakan, sudah sepantasnya negara-negara yang berbatasan dengan Samudera Hindia untuk bekerja sama mengelola sumberdaya kelautan dan perikanan didalamnya. Selanjutnya, Indonesia menekankan perlunya upaya penanggulangan Illegal, Unregulated and Unreported (IUU) Fishing guna mendukung upaya pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan secara bijaksana dan berkelanjutan, terutama di Samudera Hindia.

Indonesia dan Sri Lanka juga sepakat untuk mengembangkan kerja sama perdagangan di sektor kelautan dan perikanan melalui pengembangan kapasitas dan kerjasama teknis perikanan budidaya. Sebagai tindak lanjut pertemuan, kedua belah pihak akan membahas lebih lanjut penyusunan nota kesepahaman kerja sama kelautan dan perikanan yang direncanakan untuk ditandatangani pada pertengahan tahun 2011. Kedua belah pihak juga sepakat untuk melakukan pertemuan dalam kerangka forum pelaku bisnis dan pengusaha sektor kelautan dan perikanan RI- Sri Lanka.

Mengakhiri kunjungan kerjanya di luar negeri, Fadel mengunjungi Maladewa. Dalam pertemuan dengan Menteri Perikanan dan Pertanian Republik Maladewa, Dr. Aminath Jameel di Male, terungkap keinginan Maladewa untuk bekerja sama dengan Indonesia dibidang budidaya ikan laut dan perikananan tangkap, khususnya dibidang tuna long line. Dalam kesempatan tersebut, Fadel manyampaikan keinginan Indonesia untuk bekerja sama dan bertukar informasi mengenai kebijakan dan pengalaman Maladewa dalam pengelolaan pulau-pulau kecil di wilayahnya. Kedua belah pihak sepakat untuk menindaklanjuti dengan menandatangani Letter of Intent yang ditandatangani oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI dengan Menteri Perikanan dan Pertanian Maladewa pada bulan Maret mendatang.

Kunjungan Fadel di Maladewa diakhiri pertemuan dengan Presiden Republik Maladewa, Mohamed Nasheed. Dalam kunjungan tersebut Fadel menyampaikan kebijakan kelautan dan perikanan KKP, kemampuan dan prestasi KKP dibidang perikanan budidaya serta industri perikanan yang ada di Indonesia. Fadel juga menyampaikan minat pengusaha kelautan dan perikanan Indonesia untuk berinvestasi di Maladewa.

Jakarta, 31 Januari 2011

Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi

Dr. Yulistyo Mudho, M.Sc

Narasumber:

1. Dr. Sudirman Saad
Dirjen KP3K (HP. 0811154389)
2. Dr. Ktut Sugama
Plt. Dirjen Perikanan Budidaya (HP. 08129516895)
3. Dr. Yulistyo Mudho, M.Sc
Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi (HP.0811836967)

Komunikasi Publik
Pusat Data Statistik dan Informasi
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Gedung Mina Bahari I lantai 3A
JL. Medan Merdeka Timur No.16
Jakarta Pusat 10110
Telp. (021) 3519070 ext. 7440
Fax. (021) 3524856
BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Selasa, 08 Maret 2011

KKP menargetkan ekspor perikanan tahun ini mencapai US$ 3,2 miliar

JAKARTA. Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan nilai ekspor produk perikanan Indonesia tahun ini akan mencapai US$ 3,2 miliar, naik sekitar 20,30% dari ekspor tahun 2010 yang ditargetkan sebesar US$ 2,6 miliar.

Peningkatan target ekspor tahun ini didasarkan pada proyeksi produksi perikanan nasional yang akan meningkat. Selain itu, permintaan atas produk perikanan asal Indonesia juga semakin meningkat dari tahun ke tahun. ""kata Fadel Muhammad Menteri Kelautan dan Perikanan dalam pemaparan refleksi 2010 dan Outlook 2011 KKP, Jakarta (5/1).

Sekadar informasi, pada 2010 KKP mematok target nilai ekspor sebesar US$ 2,9 Miliar. Tapi, hingga akhir tahun kemarin, nilai ekspor yang berhasil dibukukan baru hanya mencapai US$ 2,6 Miliar. "Serangan virus pada budidaya udang, perubahan cuaca yang tidak menentu sepanjang tahun membuat ekspor kita gagal mencapai target," jelas Fadel.

Meskipun begitu, KKP tetap optimis target ekspor perikanan 2011 dapat tercapai dengan maksimal. Menurut Martani Huseini, Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP), sejak tahun lalu KKP sudah menggenjot pendirian Unit Pengolahan Ikan (UPI) sebanyak 505 unit di seluruh Indonesia.

Jumlah ini melebihi target awal KKP yang hanya mencanangkan pendirian 444 UPI sepanjang tahun 2010 lalu. UPI ini diharapkan dapat menggenjot produksi dan pengolahan produk perikanan untuk komoditas ekspor. BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Senin, 07 Maret 2011

Produksi Ikan Budidaya Terus Digenjot


Bandung – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan terus mendorong produksi perikanan dari perikanan budidaya tanpa mengesampingkan produksi perikanan tangkap laut dan sungai.

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhamad menyebutkan pertumbuhan produksi ikan dari sektro perikanan budidaya setiap tahunnya terus tumbuh pesat. Bahkan saat ini produksinya sudah diatas sedikit dari produksi ikan tangkapan.

“Produksi perikanan tahun 2010 sebesar 10,83 juta ton. Sebanyak 5,48 juta ton merupakan hasil perikanan budidaya atau mencapai 50,55%.,” ujar dia di Bandung, Rabu (12/1).

Fadel menyebutkan pertumbuhan produksi ikan dari sector budidaya sepanjang kurun waktu 2006 hingga 2010 mencapai 19,56%. Peningkatan budidaya perikanan dipicu dari sektor budidaya rumput laut. Tahun ini KKP menargetkan produksi perikanan budidaya akan naik lagi hingga mencapai 6,85 juta ton. Tahun 2015 KKP menargetkan Indonesia sebagai negara yang memiliki produksi perikanan terbesar.

Bahkan Fadel menyatakan dalam kurun waktu dua atau tiga tahun kedepan, produksi ikan diharapkan mampu menutupi kekurangan pasokan daging impor sapi. Menurut dia , impor daging sapi nantinya harus bisa digantikan dengan produksi perikanan.

“Kalau kekurangan daging impor tidak perlu memaksakan diri, cukup diganti saja dengan makan ikan,” kata dia.

Selain focus pada produksi, KKP juga akan mengamankan pasar ikan hasil budidaya agar harga ikan stabil dan tidak dipermainkan pengepul.

“Kami juga akan memperhatikan pakan ikan dan juga melakukan riset-riset.” BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Minggu, 06 Maret 2011

Pemkot Ambon Optimalkan Pelelangan Ikan Maret 2011

(Beritah Daerah-Maluku), Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon, akan mengoptimalkan pusat pelelangan ikan di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Eri, Kecamatan Nusaniwe kota Ambon, Maret 2011.

"Setelah dilakukan peninjauan Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan(P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Victor Nikijuluw ke PPI Eri, maka akan dilakukan perbaikan sistem pelelangan ikanagar berfungsi sesuai harapan," kata Kadis Perikanan dan Kelautan kota Ambon, Pit Saimima, di Ambon, Senin.

Menurut Saimima, pihaknya akan melakukan perbaikan aktifitas di PPI Eri yakni pemanfaatan pusat pelelangan ikan Maret 2011.

"Selama ini kegiatan pelelangan ikan di PPI belum berfungsi dengan baik, karena nelayan belum terbiasa dengan sistem pelelangan," katanya.

Ia mengatakan, bila Wali Kota Ambon Jopi Papilaja telah melakukan penandatanganan revisi peraturan wali kota (Perwali) pendaratan ikan dan penertiban izin alat tangkap, sistem ini mulai dilakukan.

"Seluruh pendaratan ikan harus dilaksanakan di PPI, dengan tujuan agar seluruh kegiatan perikanan terfokus," ujarnya.

Diakuinya, sistem pelelangan ikan merupakan hal yang baru bagi nelayan di kota Ambon, karena selama ini para nelayan hanya mendaratkan hasil tangkapan di PPI.

"Bila sistem ini telah dilaksanakan, dapat memudahkan pendataan jumlah nelayan serta ikan yang melakukan pendaratan di PPI," kata Saimima.

Ia menambahkan, pihaknya belum melaksanakan pelelangan komprehensif, yakni nelayan dan pembeli tidak perlu mendepositkan uang untuk membeli ikan.

"Kami belum sampai ke tingkat tersebut, karena dibutuhkan sosialisasi ke nelayan, prinsipnya ikan bisa masuk ke pusat pelelangan, agar data bisa diambil," kata Pit Saimima.
BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Sabtu, 05 Maret 2011

Bangun Kepercayaan Data Perikanan

Data dan statistik di negeri ini memang dikenal sering kacau, bahkan sulit dijadikan patokan. Bayangkan, dalam sebuah instansi pemerintah saja bisa keluar data yang berbeda-beda. Padahal, data dan informasi ini sangat vital untuk mengambil keputusan atau perencanaan. Jadi, tidak perlu heran jika kepercayaan publik terhadap data yang dirilis pemerintah beragam. Maklum, bukannya memberi kepastian tapi malah membingungkan.

Ketidaksinkronan ini juga tak luput terjadi di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Ambil contoh mengenai konsumsi ikan nasional. Belum lama ini, dalam siaran pers Pusat Data Statistik dan Informasi (Pusdatin) tertanggal 5 Januari 2011 — yang bertajuk KKP Realisasikan Target 2010 — menyatakan bahwa pada tahun 2009 tingkat konsumsi ikan nasional mencapai 29,08 kg/kapita/tahun.

Anehnya, pada hari yang sama, dalam Refleksi 2010 & Outlook 2011 Pembangunan Kelautan & Perikanan yang dipaparkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad, tingkat konsumsi ikan pada tahun 2009 disebut mencapai 30,17 kg/kapita/tahun.

Kondisi ini yang membuat Kepala Pusdatin KKP, Yulistyo Mudho tersentak. Pejabat yang baru resmi dilantik memegang posisi strategis mengenai data, statistik dan informasi KKP pada 5 Januari 2011 itu berjanji segera melakukan pembenahan. “Ini yang akan kami benahi. Karena kami satu rumah, masa datanya lain-lain,” ujar Yulistyo, yang menggantikan posisi Soen’an Hadi Poernomo.

Ayah tiga anak kelahiran Jakarta, 12 Desember 1961 ini berjanji akan memberikan informasi yang jujur kepada publik. “Tidak akan kita tutupi. Baik atau jelek. Semua akan kita beberkan kepada publik,” tandas Tito, panggilan akrabnya.

“Kita, Pusat Data Statistik dan Informasi KKP ini ditugaskan memberikan data, statistik dan informasi yang tepat dan benar. Tepat, dalam arti waktu dan ketika diminta, valid. Benar, tidak boleh bohong,” kata dosen luar biasa pasca sarjana S3 Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Untuk mengetahui lebih jauh program dan terobosan Pusdatin yang dipimpin doktor bidang Teknologi Kelautan IPB ini, berikut bincang-bincang AgroIndonesia dalam perjalanannya menuju bandara internasional Soekarno-Hatta, awal pekan lalu.

Masing-masing direktorat di KKP memiliki humas sendiri. Tak jarang, data yang dirilis, misalnya oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya mengenai produksi rumput laut, berbeda dengan yang dilansir Pusdatin. Mengapa dan bagaimana kiatnya agar kompak?

Ini yang akan kami benahi. Karena kami satu rumah, masa lain datanya. Kemarin, Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad melalui Sekretaris Jenderal KKP, Gellwyn Jusuf sudah memerintahkan kami, Pusdatin, untuk memperbaiki data. Instruksinya, masing-masing eselon 1 pemegang data jangan memberikan data langsung kepada publik, tapi harus melalui Pusdatin dulu. Data produksi udang vaname, misalnya. Pada hari H, data yang kami miliki dengan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, sama sejumlah 1 juta ton. Namun, beranjak H +10 berubah menjadi 1,2 juta ton. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya harus koordinasi dengan Pusdatin jika akan mempublikasikan perubahan itu. Dan lagi, ketika data tersebut diterima oleh Menteri Kelautan dan Perikanan adalah data yang sama. Jadi, muara berita ada di Pusdatin, satu pintu.

Jadi, dengan kata lain, publik hanya boleh percaya dengan data, statistik dan informasi keluaran Pusdatin KKP?

Ya, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada seluruh eselon 1.

Tanggapan dari para eselon 1?

Suka atau tidak, senang atau tidak, ya harus positif. Ini kan perintah Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad. Bukan perintahnya Kapusdatin KKP.

Beralih ke urusan statistik. Ada banyak komentar masyarakat bahwa statistik Pusdatin KKP masih lemah. Apa statistik termasuk agenda yang akan dibenahi?

Kalau kami dinilai lemah tentu akan kita perbaiki dan belajar ke gurunya, BPS (Badan Pusat Statistik). Saya akui, di Pusdatin ahli-ahli statistik memang masih sedikit.

Lalu, apa program baru Pusdatin dibawah komando Anda terkait statistik?

Salah satunya quick count (hitung cepat). Seperti quick count pemilu. Jumlah pendaftar pemilu misalnya 1 juta orang. Error-nya 2-5%. Pemilihnya ada 700.000 orang. Dengan error 2%, maka pemilihnya ada 650.000 orang. Model quick count ini akan kita coba, misalnya menghitung sumber daya ikan di Halmahera Utara atau di Laut Arafuru. Ide ini baru ada di benak saya. Mengenai sistem dan metodologinya memang belum ditentukan.

Untuk mewujudkan quick count seperti itu apakah pasukan Anda siap?

Kalau tidak siap, ya akan kita siapkan. Ahli-ahli statistik Pusdatin memang perlu ditambah.

Mengenai informasi, apa ada terobosan baru juga?

Website kita, www.kkp.go.id ibaratnya akan seperti TVRI dan RRI yang mampu menjangkau seluruh kabupaten, kota dan provinsi seluruh Indonesia serta dunia. Sekarang kan hanya beberapa kabupaten, kota dan provinsi yang link dengan kita. Insya Allah, dalam 2 atau 3 tahun ini semua kabupaten, kota dan provinsi di Indonesia akan link dengan kita. Sehingga, ketika diperlukan data kabupaten x, misalnya, tinggal klik x dan keluarlah data yang diinginkan. Jadi, tidak perlu telepon-telepon lagi. Cukup dengan touch screen.

Anda pernah dipimpin oleh bupati, gubernur dan menteri. Tugas Anda bolak-balik di pusat, daerah dan sekarang balik lagi ke pusat. Untuk jabatan yang sekarang ini Anda menikmati?

Saya malang-melintang di dunia kelautan dan perikanan sejak 1986. Jadi, tahu betul mana ekor, sisik, insang, kepala. Mungkin jika saya diberi jabatan lain bisa jadi tidak cocok. Jadi, jabatan ini amanah yang harus saya jaga. Saat ini saya kembali dengan versi baru. Saya yakin Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad menunjuk saya sebagai Kapusdatin karena pengalaman dan potensi yang saya miliki. Fenny YL Budiman
BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Jumat, 04 Maret 2011

Pengawasan Perairan Indonesia Kerap Bergantung Informasi Nelayan

Pengawasan wilayah perairan Indonesia kerap bergantung kepada informasi yang disampaikan para nelayan kepada aparat antara lain karena masih kurang memadainya sumber daya yang dimiliki penegak hukum.


"Banyak upaya pencurian ikan yang diketahui praktis informasinya bersumber dari nelayan yang melapor," kata Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) M Riza Damanik, dalam diskusi terbuka "Mekanisme ASEAN dalam Pemberantasan Pencurian Ikan" di Jakarta, Jumat. Terkait cuaca ekstrim yang diprediksikan terus berlangsung hingga April, ujar dia, maka waktu melaut yang dimiliki para nelayan di berbagai perairan di Indonesia diperkirakan juga akan berkurang

Hal tersebut, lanjutnya, merupakan suatu kerugian karena berarti akan semakin berkurang informasi yang diperoleh terkait tindak pencurian ikan yang kerap terjadi di berbagai wilayah perairan di Indonesia. "Cuaca ekstrem mengurangi produksi nelayan yang berimplikasi pada berkurangnya peran `jendela informasi` yang mendukung pengawasan kelautan dan perikanan sulit untuk dioptimalkan," kata Sekjen Kiara.

Ia juga mengatakan, cuaca ekstrem juga akan membuat biaya operasional untuk melaut menjadi berkurang sehingga juga berpotensi menurunkan jangkauan dan frekuensi melaut armada pengawasan.
Pembicara lainnya, Kasubdit Pengawasan Penangkapan Ikan Wilayah Timur, Slamet, mengatakan, para pelaku pencurian ikan tidak terlalu bergantung kepada cuaca ekstrim karena kapal mereka biasanya diperlengkapi dengan peralatan yang tidak terpengaruh cuaca.

"Kapal-kapal yang tertangkap memiliki alat operasional di pinggir atau trawl sehingga cuaca bagus atau buruk kayaknya tidak berpengaruh," kata Slamet. Ia juga menegaskan, armada kapal pengawasan yang dimiliki KKP akan tetap beroperasi meski cuaca buruk.

Slamet memaparkan, kapal pengawas KKP pada tahun 2010 berhasil menangkap sebanyak 165 kapal dalam waktu 100 hari operasi. Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan meningkatkan persentase wilayah perairan yang bebas "illegal fishing" dan aktivitas yang merusak sumber daya kelautan dan perikanan menjadi 31 persen pada 2011.

"Penanganan pencurian ikan tetap menjadi prioritas kami," kata Sekretaris Jenderal KKP, Gellwynn Jusuf, dalam acara penutupan rapat koordinasi nasional (Rakornas) KKP yang digelar di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, pengawasan yang ketat tetap dilakukan di berbagai lokasi yang rawan terjadinya pencurian ikan.

Ia mengatakan, sejumlah kawasan perairan di daerah yang kerap terjadi aktivitas yang melanggar hukum tersebut antara lain di daerah perairan Maluku-Papua dan Laut China Selatan.KKP pada saat ini untuk melakukan pengawasan di kawasan perairan Indonesia telah memiliki antara lain 24 kapal pengawas perikanan, 54 kapal "speedboat", dan 30 pos PSDKP. (Ant)

Sumber: http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=86350:pengawasan-perairan-indonesia-kerap-bergantung-informasi-nelayan&catid=3:nasional&Itemid=128
BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Pemerintah Minta Masyarakat Rajin Makan Ikan demi Nelayan dan Petani

Jakarta - Di 2011 ini , pemerintah menargetkan produksi ikan nasional mencapai 12,26 juta ton, naik 13% dibandingkan tahun lalu yang sebesar 10,85 juta ton. Namun ini harus diikuti dengan peningkatan konsumsi ikan untuk peningkatan kesejahteraan nelayan dan petani budidaya ikan.

Ini disampaikan oleh Kepala Pusat Data, Statistik, dan Informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan Yulistyo Mudho dalam siaran pers.

"Dukungan konsumsi dalam negeri sangat diperlukan untuk membangun alur pemasaran produk yang kuat, yang bisa membangun kepercayaan diri pelaku usaha sektor perikanan dari hulu sampai ke hilir. Peningkatan tingkat konsumsi ikan diyakini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya pelaku usaha perikanan," tuturnya.

Yulistyo mengatakan, Menteri Kelautan dan Perikanan menargetkan tahun ini kegiatan perikanan budidaya difokuskan pada enam indikator, yaitu:

* Volume produksi perikanan budidaya sebesar 6.847.500 ton
* Jumlah benih dengan mutu terjamin sebesar 42,2 milyar ekor benih ikan dan 350.420 ton bibit rumput laut
* Jumlah kawasan perikanan budidaya yang memiliki prasarana dan sarana yang sesuai kebutuhan sebanyak 116 kab/kota (70 kawasan payau, 116 kawasan tawar, dan 81 kawasan laut)
* Jumlah kawasan perikanan budidaya (sama dengan point ketiga) yang memiliki usaha yang bankable 116 kab/kota (70 kawasan payau, 116 kawasan tawar, dan 81 kawasan laut)
* Jumlah kawasan perikanan budidaya yang memiliki lingkungan yang sehat sebanyak 116 kab/kota (70 kawasan payau, 116 kawasan tawar, dan 81 kawasan laut)
* Persentase perencanaan, pengendalian dan pelaporan terintegrasi, akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.

Yulistyo mengatakan, masyarakat harus meningkatkan konsumsi ikan karena banyak manfaat dan keunggulan dibandingkan dengan protein hewani lainnya.

"Ikan memiliki kandungan nutrisi yang relatif aman untuk balita hingga manula. Kandungan omega 3, 6, dan 9 pada ikan memberikan beberapa manfaat," tukas Yulistyo.
BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Kamis, 03 Maret 2011

Perikanan dan Ketahanan Pangan


Produksi perikanan tahun 2010 mencapai 10,83 juta ton, meningkat sebesar 10,29% dibandingkan tahun 2009 yang besarnya 9,82 juta ton. Target produksi perikanan untuk tahun 2014 sebesar 22,39 juta ton, sedangkan perikanan budidaya 16,89 juta ton. Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad dalam "Diskusi Majalah Trobos: Outlook Perikanan Tahun 2011", di Hotel Borobudur, Jakarta (7/2).

Lebih lanjut Menteri mengatakan, ditargetkan pada tahun 2011 kegiatan perikanan budidaya difokuskan dengan indikator: Pertama, volume produksi perikanan budidaya sebesar 6.847.500 ton, Kedua, jumlah benih dengan mutu terjamin sebesar 42,2 milyar ekor benih ikan dan 350.420 ton bibit rumput laut, Ketiga, jumlah kawasan perikanan budidaya yang memiliki prasarana dan sarana yang sesuai kebutuhan sebanyak 116 kab/kota (70 kawasan payau, 116 kawasan tawar, dan 81 kawasan laut), Keempat, jumlah kawasan perikanan budidaya (sama dengan point ketiga) yang memiliki usaha yang bankable 116 kab/kota (70 kawasan payau, 116 kawasan tawar, dan 81 kawasan laut), Kelima, jumlah kawasan perikanan budidaya yang memiliki lingkungan yang sehat sebanyak 116 kab/kota (70 kawasan payau, 116 kawasan tawar, dan 81 kawasan laut), dan Keenam, persentase perencanaan, pengendalian dan pelaporan terintegrasi, akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.

Tahun ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan sasaran produksi ikan sebesar 12,26 juta ton. Angka ini meningkat 13 % dari produksi tahun lalu sebesar 10,85 juta ton. Peningkatan produksi tersebut diharapkan diikuti dengan kenaikan tingkat konsumsi ikan. Hingga akhir 2010, tingkat konsumsi ikan mencapai 30,47 kg/ kapita/tahun, meningkat dibandingkan konsumsi tahun 2009 sebesar 29,08 kg/ kapita. Dukungan konsumsi dalam negeri sangat diperlukan untuk membangun alur pemasaran produk yang kuat, yang bisa membangun kepercayaan diri pelaku usaha sektor perikanan dari hulu sampai ke hilir. Peningkatan tingkat konsumsi ikan diyakini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya pelaku usaha perikanan.

Selain masalah ketersediaan, ikan memiliki banyak keunggulan dibanding protein hewani lainnya. Ikan memiliki kandungan nutrisi yang relatif aman untuk balita hingga manula. Kandungan omega 3, 6, dan 9 pada ikan memberikan beberapa manfaat seperti: tumbuh kembang bayi lebih cepat, balita lebih aktif dan cerdas, serta membuat daya tahan tubuh lebih kuat. Memasak ikan pun tidak membutuhkan energi yang banyak. Keragaman jenis ikan memberikan pilihan bagi konsumen dari berbagai lapisan masyarakat. Ada banyak jenis ikan yang memiliki harga lebih murah dibanding sumber protein hewani yang lain.

Dalam upaya menciptakan pangan sebagai ideologi, perikanan budidaya melakukan kegiatan berupa perbaikan keamanan pangan (food safety) dari hulu - hilir, dan pengawasan mutu produk impor dan ekspor perikanan. Para pembudidaya harus menerapkan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), yaitu pembudidaya akan diberikan sertifikasi hasil penilaian secara obyektif dan transparan sehingga dapat meningkatkan kepercayaan baik produsen maupun konsumen, dan pada gilirannya akan meningkatkan daya saing produk perikanan budidaya. Sampai dengan tahun 2010, dari sebanyak 650 unit usaha disertifikasi, sebanyak 341 unit usaha yang bersertifikat yang tersebar di 22 provinsi dalam kategori: Pokdakan (79 unit), Perorangan (130 unit), dan Badan Usaha (132 unit).

Dalam mendukung penerapan sistem jaminan mutu, diperlukan standar mengenai sistem operasional budidaya perikanan yang supaya hasil yang diperoleh memenuhi kriteria mutu sesuai permintaan pasar dan keamanan pangan. Selain itu, dalam upaya peningkatan mutu produk, diperlukan standar di Indonesia berupa SNI (Standarisasi Nasional Indonesia) yang diakui secara internasional. Standar disusun dan dirumuskan melalui tahapan yang telah diatur oleh BSN dengan prinsip perumusan yaitu: standar dilaksanakan secara terbuka, transparan, tidak memihak, efektif, koheren, dan konsensus. Jumlah SNI Perikanan Budidaya pada tahun 2010 yang telah ditetapkan penomorannya sebanyak 11 SNI yang terdiri dari 2 SNI pengemasan udang vaname, 3 SNI produksi rumput laut cottoni, 1 SNI produksi rumput laut gracilaria, 5 SNI metode uji.

Untuk keterangan lebih lanjut, silakan menghubungi Dr. Ir. Yulistyo Mudho M.Sc, Kepala Pusat Data, Statistik dan Informasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan (HP. 0811836967)
BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

PERIKANAN

Dalam perikanan di Indonesia terbagi secara ekologis dalam beberapa area yaitu:
perikanan laut, perikanan air tawar dan perikanan pantai.
Perikanan laut: kegiatan utama adalah penangkapan (hunting) untuk memanfaatkan
sumberdaya hayati laut. Untuk menjaga kelestarian sumberdaya hayati, diperlukan
pengelolaan perikanan.
Perikanan air tawar: terdiri dari kegiatan, yaitu kegiatan budidaya dan penangkapan ikan
di perairan umum (DAS, danau dan waduk). Untuk perairan umum diperlukan juga studi
pengelolaan sumberdaya hayati.
Perikanan pantai: kegiatannya terutama dalam menangani budidaya laut (mariculture)
dan budidaya di tambak (air payau).
Selengkapnya>>> DOWNLOAD disini BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Rabu, 02 Maret 2011

BIOLOGI POPULASI IKAN BARONANG LINGKIS (S.canaliculatus)

Beberapa penelitian tentang ikan baronang lingkis telah dilakukan (Ikbal, 1990;
Madeali, 1984 dan Yan 1989). Namun demikian penelitian yang menghubungkan kondisi
lingkungan dengan parameter populasi ikan baronang belum banyak dilakukan. Upaya
penangkapan ikan baronang lingkis (S. canaliculatus) di Kecamatan Bua telah lama
dilakukan oleh nelayan setempat. Upaya penangkapan yang terus dilaksanakan
menyebabkan penurunan produksi per satuan usaha yaitu 100 kg/trip menjadi 15 – 30
kg/trip. Selain itu ikan hasil tangkapan mengalami penurunan ukuran dari waktu kewaktu.(Komunikasi Pribadi dengan Nelayan). Hal ini merupakan salah satu indikasi
adanya over fishing. selengkapnya...>> DOWNLOAD disini BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Ikan Bergigi Manusia Ditemukan



Washington - Seorang pemancing di Amerika Serikat dikejutkan dengan ikan yang menyangkut di kailnya. Seekor ikan yang memiliki gigi, mirip dengan gigi manusia berhasil ditangkap.

Seperti dilansir orange.co.uk, Kamis (23/9/2010), Frank Yarborough, warga South Carolina sedang memancing di Danau Wylie. Tanpa disengaja dia mendapatkan ikan aneh yang panjangnya sekitar 8 inci tersebut.

Asumsi awal, ikan yang dia tangkap itu sejenis ikan lele. Yarborough pun memasukkan tangannya ke dalam air untuk menariknya keluar. Namun saat mencopot kail dari mulut ikan tersebut betapa terkejutnya dia setelah melihat ikan itu bergigi manusia.

Robert Stroud, seorang ahli biologi perikanan air tawar telah mengambil sampel dari ikan tersebut untuk dikirim guna menentukan spesies ikan tersebut ke Departemen Sumber Daya Alam South Carolina.

"Ikan ini kemungkinan spesies pacu, yang berasal dari cekungan Sungai Amazon, Amerika Selatan dan biasa diperdagangkan untuk ditempatkan di akuarium," kata Stroud.

Saat ini ikan yang telah mati tersebut ditaruh di dalam kulkas di rumah Yarborough. Dia tidak berencana untuk memasak hasil tangkapannya itu.

Sumber:
http://www.detiknews.com/read/2010/09/23/012824/1446227/10/ikan-bergigi-manusia-ditemukan?991102605 BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

PERTUMBUHAN IKAN

Pertumbuhan didefiniskan sebagai pertumbuhan ukuran baik bobot maupun panjang dalam satu periode waktu tertentu (Effendi,1979) sedangkan menurut fujaya,2004, pertumbuhan adalah pertambhan ukuran baik panjang maupun berat. Perumbuhan dipengaruhi oleh factor genetic, hormone dan lingkungan. faktor lingkungan yang paling penting adalah zat hara (Fujaya, 2004)

Pertumbuhan merupakan proses biologis yang komplek dimana banyak factor yang mempengaruhinya. Pertumbuhan dalam individu adalah pertambahan jaringan akibat dari pembelahan sel secara mitosis. Hal ini terjadi apabila ada kelebihan input energy dan asam amino (protein) berasal dari makanan.
Keturunan berhubungan dengan cara seleksi induk, yaitu induk yang bermutu tentu menghasilkan anakan yang baik atau sebaliknya. Pertumbuhan kelamin dan umur pun sangat berkaitan. Ada baiknya pemeliharaan ikan pada beberapa jenis dipisahkan antara jantan dan betina. Hal ini untuk menghindari adanya gejala pematangan kelamin secara dini. Bisa saja ikan yang masih kecil sudah bertelur sehingga pertumbuhan badannya terhambat.
Kerentanan penyakit terkadang merupakan faktor keturunan dan tergantung jenis ikan. Ada ikan yang tahan terhadap bakteri, tetapi rentan terhadap jamur atau sebaliknya. Oleh karena itu, pengetahuan tentang jenis ikan pun diperlukan untuk mengetahui setiap jenis penyakit yang sering menyerang ikan tersebut. Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati penyakit harus selalu disiapkan sebagai tindakan antisipasi bila timbul penyakit.
Pada pemeliharaan ikan ini kualitas air, kepadatan ikan, serta jumlah dan kualitas pakan pun harus selalu diperhatikan. Kepadatan ikan sangat penting untuk kenyamanan hidup. Ikan yang terlalu padat dapat menimbulkan stres karena kualitas air cepat menjadi jelek. Bahkan, oksigen terlarut cepat habis. Selain itu, pada ikan tertentu dapat terjadi gesekan antar ikan sehingga menimbulkan luka. Akibatnya, penampilan ikan menjadi jelek atau bahkan dapat menimbulkan kematian.
Jumlah dan kualitas pakan merupakan faktor penting. Bila pakannya terlalu sedikit, ikan akan sukar tumbuh. Sebaliknya bila terlalu banyak, kondisi air menjadi jelek, terutama pakan buatan. Pemberian pakan dengan frekuensi lebih sering dan jumlah yang tidak terlalu banyak akan lebih baik dibanding diberikan sekaligus dalam jumlah banyak.
Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh dua factor, yaitu factor internal yang meliputi keturunan, sex, umur dan serangan penyakit. Dalam suatu kultur, factor keturunan mungkin dapat dikontrol dengan mengadakan seleksi untuk mencari ikan yang baik pertumbuhannya. Tetapi kalau alam tidak ada control yang dapat diterapkan. Juga factor sex tidak dapat dikontrol. Ada ikan betina pertumbuhannya lebih baik dari ikan jantan dan sebaliknya ada pula spesies ikan yang tidak mempunyai perbedaan pertumbuhannya lebih baik dari ikan jantan. Tercapainya kematangan gonad untuk pertama kali kiranya mempengaruhi pertumbuhan yaitu kecepatan pertumbuhan menjadi lambat.
Umur telah diketahui dengan jelas berperan terhadap pertumbuhan. Pertumbuhan cepat terjadi pada ikan ketika berumur 3- 5 tahun. Pada ikan tua walaupun pertumbuhan itu terus tetapi berjalan lamba. Ikan tua pada umumnya kekurangan makanan berlebihan untuk pertumbuhan, karena sebagian besar makanannya digunakan untuk pemeliharaan tubuh dan pergerakan.
Sedangkan Penyakit adalah terganggunya kesehatan ikan yang diakibatkan oleh berbagai sebab yang dapat mematikan ikan. Secara garis besar penyakit yang menyerang ikan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu penyakit infeksi (penyakit menular) dan non infeksi (penyakit tidak menular). Penyakit menular adalah penyakit yang timbul disebabkan oleh masuknya makhluk lain kedalam tubuh ikan, baik pada bagian tubuh dalam maupun bagian tubuh luar. Makhluk tersebut antara lain adalah virus, bakteri, jamur dan parasit. Penyakit tidak menular adalah penyakit yang disebabkan antar lain oleh keracunan makanan, kekurangan makanan atau kelebihan makanan dan mutu air yang buruk. Penyakit yang muncul pada ikan selain di pengaruhi kondisi ikan yang lemah juga cara penyerangan dari organisme yang menyebabkan penyakit tersebut. Faktor-faktor yang menyebabkan penyakit pada ikan antara lain :
1. Adanya serangan organisme parasit, virus, bakteri dan jamur.
2. Lingkungan yang tercemar (amonia, sulfida atau bahanbahan kimia beracun)
3. Lingkungan dengan fluktuasi ; suhu, pH, salinitas, dan kekeruhan yang besar
4. Pakan yang tidak sesuai atau gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan ikan
5. Kondisi tubuh ikan sendiri yang lemah, karena faktor genetik (kurang kuat menghadapi
perubahan lingkungan).
Oleh karena itu untuk mencegah serangan penyakit pada ikan dapat dilakukan dengan cara antara lain mengetahui sifat dari organisme yang menyebabkan penyakit, pemberian pakan yang sesuai (keseimbangan gizi yang cukup), hasil keturunan yang unggul dan penanganan benih ikan yang baik (saat panen dan transportasi benih).
Dalam hal penanganan saat tranportasi benih, agar benih ikan tidak mengalami stress perlu perlakuan sebagai berikut antara lain; dengan pemberian KMnO4, fluktuasi suhu yang tidak tinggi, penambahan O2 yang tinggi, pH yang normal, menghilangkan bahan yang beracun serta kepadatan benih dalam wadah yang optimal.
Penyakit dapat diartikan sebagai organisme yang hidup dan berkembang di dalam tubuh ikan sehingga organ tubuh ikan terganggu. Jika salah satu atau sebagian organ tubuh terganggu, akan terganggu pula seluruh jaringan tubuh ikan . Pada prinsipnya penyakit yang menyerang ikan tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses hubungan antara tiga faktor, yaitu kondisi lingkungan (kondisi di dalam air), kondisi inang (ikan) dan kondisi jasad patogen (agen penyakit). Dari ketiga hubungan faktor tersebut dapat mengakibatkan ikan sakit. Sumber penyakit atau agen penyakit itu antara lain adalah parasit, cendawan atau jamur, bakteri dan virus.
Factor eksternal tersebut yaitu komposisi kualitas kimia dan fisika air, bahan buangan metabolic, dan ketersediaan pakan.

A. Kualitas Air Untuk Pembesaran Ikan

Kualitas lingkungan perairan adalah suatu kelayakan lingkungan perairan untuk kisaran tertentu. Sementara itu, perairan ideal adalah perairan yang dapat mendukung kehidupan organisme dalam menyelesaikan daur hidupnya (Boyd, 1982).
Menurut Ismoyo (1994) kualitas air adalah suatu keadaan dan sifat-sifat fisik, kimia dan biologi suatu perairan yang dibandingkan dengan persyaratan untukkeperluan tertentu, seperti kualitas air untuk air minum, pertanian dan perikanan, rumah sakit, industri dan lain sebagainya. Sehingga menjadikan persyaratan kualitas air berbeda-beda sesuai dengan peruntukannya.
Menurut Mc Gauhey (1968) beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kualitas air:
1. Tingkat pemanfaatan dari penggunaan air
2. Faktor kualitas alami sebelum dimanfaatkan
3. Faktor yang menyebabkan kualitas air bervariasi
4. Perubahan kualitas air secara alami
5. Faktor-faktor khusus yang mempengaruhi kualitas air
6. Persyaratan kualitas air dalam penggunaan air
7. Pengaruh perubahan dan keefektifan kriteria kualitas air
8. Perkembangan teknologi untuk memperbaiki kualitas air
9. Kualitas air yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Parameter fisik dalam kualitas air merupakan parameter yang bersifat fisik, dalam arti dapat dideteksi oleh panca indera manusia yaitu melalui visual, penciuman, peraba dan perasa. Perubahan warna dan peningkatan kekeruhan air dapat diketahui secara visual, sedangkan penciuman dapat mendeteksi adanya perubahan bau pada air serta peraba pada kulit dapat membedakan suhu air, selanjutnya rasa tawar, asin dan lain sebagainya dapat dideteksi oleh lidah (indera perasa). Hasil indikasi dari panca indera ini hanya dapat dijadikan indikasi awal karena bersifat subyektif, bila diperlukan untuk menentukan kondisi tertentu, misal kualitas air tersebut telah menurun atau tidak harus dilakukan analisis pemeriksaan air di laboratorium dengan metode analisis yang telah ditentukan. Sedangkan parameter kimia yang didefinisikan sebagai sekumpulan bahan/zat kimia yang keberadaannya dalam air mempengaruhi kualitas air. Selanjutnya secara keseluruhan parameter biologi mampu memberikan indikasi apakah kualitas air pada suatu perairan masih baik atau sudah kurang baik, hal ini dinyatakan dalam jumlah dan jenis biota perairan yang masih dapat hidup dalam perairan (Hardjojo dan Djokosetiyanto, 2005; Effendi, 2003).
Adapun Parameter fisika, kimia, dan biologi antara lain :
1. DO (Oksigen Terlarut)
Oksigen terlarut merupakan faktor pembatas bagi kehidupan organisme. Perubahan konsentrasi oksigen terlarut dapat menimbulkan efek langsung yang berakibat pada kematian organisme perairan. Sedangkan pengaruh yang tidak langsung adalah meningkatkan toksisitas bahan pencemar yang pada akhirnya dapat membahayakan organisme itu sendiri. Hal ini disebabkan oksigen terlarut digunakan untuk proses metabolisme dalam tubuh dan berkembang biak (Rahayu, 1991).
Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan makhluk hidup didalam air maupun hewan teristrial. Penyebab utama berkurangnya oksigen terlarut di dalam air adalah adanya bahan-bahan buangan organik yang banyak mengkonsumsi oksigen sewaktu penguraian berlangsung (Hardjojo dan 0,0-15,0 mg/l(Hadic dan Jatna, 1998).
2. Salinitas
Menurut Holiday (1967), salinitas mempunyai peranan penting untuk kelangsungan hidup dan metabolisme ikan, disamping faktor lingkungan maupun factor genetik spesies ikan tersebut. Sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh beberapa factor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan, dan aliran air sungai. Di perairan lepas pantai yang dalam, angin dapat pula melakukan pengadukan lapisan atas hingga membentuk lapisan homogen sampai kira-kira setebal 50-70 meter atau lebih tergantung dari intensitas pengadukan. Lapisan dengan salinitas homogen, maka suhu juga biasanya homogen, selanjutnya pada lapisan bawah terdapat lapisan pekat dengan degradasi densitas yang besar yang menghambat pencampuran antara lapisan atas dengan lapisan bawah (Nontji, 2007).
3. Suhu
Pengaruh suhu secara tidak langsung dapat menentukan stratifikasi massa air, stratifikasi suhu di suatu perairan ditentukan oleh keadaan cuaca dan sifat setiap perairan seperti pergantian pemanasan dan pengadukan, pemasukan atau pengeluaran air, bentuk dan ukuran suatu perairan. Suhu air yang layak untuk budidaya ikan laut adalah 27 – 32 0C (Mayunar et al., 1995; Sumaryanto et al.,2001). Kenaikan suhu perairan juga menurunkan kelarutan oksigen dalam air, memberikan pengaruh langsung terhadap aktivitas ikan disamping akan menaikkan daya racun suatu polutan terhadap organism perairan (Brown dan Gratzek, 1980). Selanjutnya Kinne (1972) menyatakan bahwa suhu air berkisar antara 35 – 40 0C merupakan suhu kritis bagi kehidupan organisme yang dapat menyebabkan kematian.
4. pH
pH merupakan suatu pernyataan dari konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam air, besarannya dinyatakan dalam minus logaritma dari konsentrasi ion H. Besaran pH berkisar antara 0 – 14, nilai pH kurang dari 7 menunjukkan lingkungan yang masam sedangkan nilai diatas 7 menunjukkan lingkungan yang basa, untuk pH =7 disebut sebagai netral (Hardjojo dan Djokosetiyanto, 2005). Perairan dengan pH < 4 merupakan perairan yang sangat asam dan dapat menyebabkan kematian makhluk hidup, sedangkan pH > 9,5 merupakan perairan yang sangat basa yang dapat menyebabkan kematian dan mengurangi produktivitas perairan. Perairan laut maupun pesisir memiliki pH relatif lebih stabil dan berada dalam kisaran yang sempit, biasanya berkisar antara 7,7 – 8,4. pH dipengaruhi oleh kapasitas penyangga (buffer) yaitu adanya garam-garam karbonat dan bikarbonat yang dikandungnya (Boyd, 1982; Nybakken, 1992).
Cahaya matahari merupakan sumber energi yang utama bagi kehidupan jasad termasuk kehidupan di perairan karena ikut menentukan produktivitas perairan. Intensitas cahaya matahari merupakan faktor abiotik utama yang sangat menentukan laju produktivitas primer perairan, sebagai sumber energi dalam proses fotosintesis (Boyd, 1982).
5. Intensitas Cahaya dan Kecerahan
Umumnya fotosintesis bertambah sejalan dengan bertambahnya intensitas cahaya sampai pada suatu nilai optimum tertentu (cahaya saturasi), diatas nilai tersebut cahaya merupakan penghambat bagi fotosintesis (cahaya inhibisi). Sedangkan semakin ke dalam perairan intensitas cahaya akan semakin berkurang dan merupakan factor pembatas sampai pada suatu kedalaman dimana fotosintesis sama dengan respirasi (Cushing, 1975; Mann, 1982; Valiela, 1984; Parson et al.,1984; Neale , 1987).
Kedalaman perairan dimana proses fotosintesis sama dengan proses respirasi disebut kedalaman kompensasi. Kedalaman kompensasi biasanya terjadi pada saat cahaya di dalam kolom air hanya tinggal 1 % dari seluruh intensitas cahaya yang mengalami penetrasi dipermukaan air.Kedalaman kompensasi sangat dipengaruhi oleh kekeruhan dan keberadaan awan sehingga berfluktuasi secara harian dan musiman (Effendi, 2003).
6. Kekeruhan
Kekeruhan merupakan sifat fisik air yang tidak hanya membahayakan ikan tetapi juga menyebabkan air tidak produktif karena menghalangi masuknya sinar matahari untuk fotosintesa. Kekeruhan ini disebabkan air mengandung begitu banyak partikel tersuspensi sehingga merubah bentuk tampilan menjadi berwarna dan kotor. Adapun penyebab kekeruhan ini antara lain meliputi tanah liat, lumpur, bahan-bahan organik yang tersebar secara baik dan partikel-partikel kecil tersuspensi lainnya. Tingkat kekeruhan air di perairan mempengaruhi tingkat kedalaman pencahayaan matahari, semakin keruh suatu badan air maka semakin menghambat sinar matahari masuk ke dalam air. Pengaruh tingkat pencahayaan matahari sangat besar pada metabolism makhluk hidup dalam air, jika cahaya matahari yang masuk berkurang maka makhluk hidup dalam air terganggu, khususnya makhluk hidup pada kedalaman air tertentu, demikian pula sebaliknya (Hardjojo dan Djokosetiyanto, 2005; Alaerts dan Santika, 1987).

B. Ketersediaan Pakan

Kualitas dan kuantitas pakan sangat penting dalam budidaya ikan, karena hanya dengan pakan yang baik ikan dapat tumbuh dan berkembang sesuai dergan yang kita inginkan. Kualitas pakan yang baik adalah pakan yanq mempunyai gizi yang seimbang baik protein, karbohidrat maupun lemak serta vitamin dan mineral Pemupukan kolam telah merangsang tumbuhnya fitoplankton, zooplankton, maupun binatang yang hidup di dasar, seperti cacing, siput, jentik-jentik nyamuk dan chironomus (cuk). Semua itu dapat menjadi makanan ikan. Namun, ikan juga masih perlu pakan tambahan berupa pelet yang mengandung protein 30-40% dengan kandungan lemak tidak lebih dan 3%.. Perlu pula ditambahkan vitamin E dan C yang berasal dan taoge dan daun-daunan/ sayuran yang duris-iris. Boleh juga diberi makan tumbuhan air seperti ganggeng (Hydrilla). Banyaknya pelet sebagai pakaninduk kira-kira 3% berat biomassa per hari.
BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...