Pencari Senyum. Diberdayakan oleh Blogger.

-

slide photo

Entri Populer

Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan

Rabu, 23 Juni 2010

El Nino dan La Nina serta dampanya di Indonesia

Seperti yang sudah bnyak diceritakan sebelumnya dan mungkin sudah banyak yang tau klo Indonesia ini terletak di antara dua benua dan dua samudera. Kondisi yang menyebabkan indonesia menjadi sangat unik lokasinya. Lokai yang unik ini juga menyebabkan fluktuasi iklim, khususnya curah hujan yg juga unik. Misalnya indonesia ini merupakan lokasi terjadinya konvergensi dua buah sirkulasi utama di dunia yaitu sirkulasi walker dan sirkulasi hadley. Karena terletak di antara dua benua, maka aktifitas hangat dan dingin dikedua benua akibat dari pergerakan matahari yang berpindah dari 23.5o LU ke 23.5o LS setiap tahun menyebabkan negeri kita ini juga di lewati oleh angin monsoon. Trus indonesia juga di penuhi oleh gunung2, hutan, ladang yang juga unik bentuknya. Semua itu mempengaruhi hujan di indonesia. Apa hubungannya dengan El Nino dan La Nina? Akibat dari interaksi semuanya itu menyebabkan pengaruh El Nino dan La Nina semua tempat di Indonesia berbeda2…

Contohnya saja di Bali. Pengaruh fluktuasi nilai indeks osilasi selatan yang menggambarkan kejadian El Nino/La Nina antara bagian selatan dan utaranya. Karena di tengah2 pulau Bali ada gunung yang membentang dari timur ke barat (As-syakur, 2007). Aldrian and Susanto (2003) juga menyimpulkan bahwa pengaruh El Nino/La Nina juga berbeda pada setiap daerah dengan pola hujan yang berbeda, dimana di daerah dengan polah hujan monson pengaruh fenomena iklim ini kuat, pada daerah berpola hujan equatorial pengaruhnya lemah, sedangkan pada daerah berpola hujan lokal tidak jelas. Hasil yang sama juga di ungkapkan oleh Hamada et al. (2002), walaupun Hamada et al. membagi pola hujan di Indonesia dengan 4 pola yang berbeda, tapi intinya dia jua mengungkapkan bahwa setiap daerah dengan pola hujan yang berbeda, responnya terhadap El Nino/La Nina juga berbeda-beda. gambar di bawah adalah pola spasial efek El Nino 1997/1998 terhadap curah hujan di dunia (Bell et al., 1999) (klik untuk memperbesar). bila di lihat dari gambar tersebut terlihat penurunan hujan di indonesia sangat drastis saat El Nino 97/98

Artikel yang menarik untuk melihat distribusi efek El Nino ini secara lengkap khususnya kejadian El Nino 1997 adalah publikasinya Gutman et al. (2000) yang berjudul Using NOAA/AVHRR Products to Monitor El Niño Impacts: Focus on Indonesia in 1997–98 dan diterbitkan di Bulletin of the American Meteorological Society No. 81. Beliau merangkum banyak hal disitu mulai dari kondisi sebaran SST saat itu dan efeknya terhadap sebaran hujan (Gambar di atas, klik untuk memperbesar), bagaimana sebaran kekeringan, sebaran kebakaran hutan, sebaran suhu permukaan daratan serta tutupan vegetasi. Secara umum kesimpulan beliau adalah pada saat El Nino suhu permukaan laut meningkat, periode kekeringan yang berkepanjangan, dengan keadaan jumlah awan, curah hujan serta uap air yang rendah. Akibatnya fluktuasi penyerapan gelombang pendek dan kehilangan gelombang panjang adalah meningkat secara signifikan.

Karena saat awal kejadian El Nino biasanya bertepatan dengan masa pembakaran lahan pertanian di daerah-daerah yang melakukan sistem perladangan berpindah, maka kondisi tersebut menyebabkan timbulnya kebakaran serta banyak menghasilkan asap yang sebarannya sangat luas serta dengan konsentrasi yang tinggi dan waktu tinggal asap tersebut di udara yang cukup lama. Hal ini menyebabkan turunnya tingkat kesehatan disekitar. Selain itu juga menyebabkan bentuk dan jumlah butiran2 air di awan juga berubah. Pada bidang pertanian kejadian El Nino menyababkan penurunan rata-rata kehilangan peluang produksi pangan selama tahun 1968-2000 sekitar 1.79 juta ton atau sekitar 3.06 % dari seluruh peluang produksi pangan (Irawan, 2006).

pengaruh umum El Nino di perairan laut Indonesia adalah mendinginnya suhu permukaan laut di sekitar perairan indonesia akibat dari tertariknya seluruh masa air hangat ke bagian tengah samudra pasifik. akibat buruk dari kondisi ini adalah berkurangnya produksi awan di wilayah indonesia yang sudah pasti efek sampingnya adalah menurunnya curah hujan, tapi segi positifnya adalah meningkatnya kandungan klorofil-a di perairan laut indonesia. sudah menjadi rahasia umum bahwa semakin rendah suhu permukaan laut, maka kandungan klorofil-a semakin tinggi serta akibat lainnya adalah kemungkian terjadinya proses upwelling semakin besar di sekitar perairan indonesia. keadaan ini menyebabkan meningkatnya pasokan makanan ikan, jumlah ikan di sekitar perairan lebih banyak dari biasanya dan yang ujung-ujungnya mampu meningkatkan pendapatan para nelayan.

Sangat sedikit sekali bahan yang menjelaskan dampak La Nina di indonesia. Cuman dapat di Bell et al. (1999 dan 2000) yang mengatakan bahwa La Nina menyebabkan curah hujan di indonesia meningkat pada saat musim kemarau serta menyebabkan majunya awal musim hujan. karena cenderung meningkatkan curah hujan pada musim kemarau serta majunya awal musim hujan tersebut, menjadikan efek La Nina bisa bersifat positif seperti naiknya rata-rata produksi pangan sebesar 521 ribu ton atau 1.08 % dari total rata-rata produksi (Irawan, 2006). kondisi wilayah laut indonesia juga terjadi sebaliknya dari kondisi La Nina. laut menjadi lebih hngat dari biasanya, pasokan klorofil-a menurun sehingga nelayan pun ikut merasakan dampaknya yaitu berkurangnya hasil tangkapan ikan.

Menurut Aldrian (2003) pengaruh ENSO (El Nino/La Nina) di Indonesia di mulai pada bulan april dan akan mencapai puncak pada bulan agustus dan september serta terus menurun sampai bulan desember. Akan tetapi setiap para peneliti di dunia menarik kesimpulan yang sama bahwa efek ENSO pada setiap kejadian tidak akan pernah sama karena kompleksnya interaksi antara atmosfer dan laut, berbeda-bedanya pengaruh dominan dari faktor-faktor penyebab ENSO, serta adanya pengaruh lokal yang berbeda-beda pada setiap kejadian ENSO.

Referensi

Aldrian, E. 2003. Simulations of Indonesian Rainfall with a Hierarchy of Climate Models. Dissertation. Max-Planck-Institute for Meteorology. Hamburg University. Hamburg-Germany

Aldrian, E., and R.D. Susanto. 2003. Identification of Three Dominant Rainfall Regions within Indonesia and Their Relationship to Sea Surface Temperature. Int. J. Climatol. 23. 1435–1452.

As-syakur, A.R., 2007. Identifikasi Hubungan Fluktuasi Nilai SOI Terhadap Curah Hujan Bulanan Di Kawasan Batukaru-Bedugul, Bali. Jurnal Bumi Lestari, 7(2), pp. 123-129.

Bell, G.D., M.S. Halpert, C.F. Ropelewski, V.E. Kousky, A.V. Douglas, R.C. Schnell, and M.E. Gelman. 1999. Climate Assessment for 1998. Bulletin of the American Meteorological Society, 80(5). S1-S48

Bell, G.D., M.S. Halpert, R.C. Schnell, R.W. Higgins, J. Lawrimore, V.E. Kousky, R. Tinker, W. Thiaw, M. Chelliah, and A. Artusa. 2000. Climate Assessment for 1999. Bulletin of the American Meteorological Society, 81(6). S1-S50

Gutman, G., I. Csiszar, and P. Romanov. 2000. Using NOAA/AVHRR Products to Monitor El Niño Impacts: Focus on Indonesia in 1997–98. Bulletin of the American Meteorological Society, 81. 1189-1205

Hamada, J., M.D. Yamanaka, J. Matsumoto, S. Fukao, P.A. Winarso, and T. Sribimawati. 2002. Spatial and temporal variations of the rainy season over Indonesia and their link to ENSO. J. Meteor. Soc. Japan, 80. 285-310

Irawan, B. 2006. Fenomena Anomali Iklim El Nino dan La Nina – Kecenderungan Jangka Panjang dan Pengaruhnya terhadap Produksi Pangan. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 24(1). 28-45.

From: mbojo.wordpress.com

BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

El Nino dan La Nina

'El Niño' dan La Niña (bahasa Spanyol; baca: dan ) adalah kondisi abnormal iklim di mana suhu permukaan Samudra Pasifik di pantai Barat Ekuador dan Peru lebih tinggi dari rata-rata normalnya. Istilah ini pada mulanya digunakan untuk menamakan arus laut hangat yang terkadang mengalir dari Utara ke Selatan antara pelabuhan Paita dan Pacasmayo di daerah Peru yang terjadi pada bulan Desember. Kejadian ini kemudian semakin sering muncul yaitu setiap tiga hingga tujuh tahun serta dapat mempengaruhi iklim dunia selama lebih dari satu tahun.

Nama El Niño diambil dari bahasa Spanyol yang berarti “anak laki-laki”, merujuk pada bayi Yesus Kristus dan digunakan karena arus ini biasanya muncul selama musim Natal; sedangkan La Niña berarti "gadis kecil". Karena fluktuasi dari tekanan udara dan pola angin di Selatan Pasifik yang menyertai El Niño, fenomena ini dikenal dengan nama El Niño Southern Oscillation (ENSO).

El nino terjadi karena pemanasan di ekuator samudra pasifik dan pemanasan global juga menjadi salah satu unsurnya.

Selain memberikan kerugian, el nino juga memberikan keuntungan pada Indonesia. Contohnya, ikan tuna di Pasifik bergerak ketimur. Namun, ikan yang berada di Samudera Hindia bergerak masuk ke selatan Indonesia. Hal itu karena perairan di timur samudera ini mendingin, sedangkan yang berada di barat Sumatera dan selatan Jawa menghangat. Hal ini membuat indonesia mendapat banyak ikan tuna.

El-Nino, menurut sejarahnya adalah sebuah fenomena yang teramati oleh para penduduk atau nelayan Peru dan Ekuador yang tinggal di pantai sekitar Samudera Pasifik bagian timur menjelang hari natal (Desember). Fenomena yang teramati adalah meningkatnya suhu permukaan laut yang biasanya dingin. Fenomena ini mengakibatkan perairan yang tadinya subur dan kaya akan ikan (akibat adanya upwelling atau arus naik permukaan yang membawa banyak nutrien dari dasar) menjadi sebaliknya. Pemberian nama El-Nino pada fenomena ini disebabkan oleh karena kejadian ini seringkali terjadi pada bulan Desember. El-Nino (bahasa Spanyol) sendiri dapat diartikan sebagai “anak lelaki”. Di kemudian hari para ahli juga menemukan bahwa selain fenomena menghangatnya suhu permukaan laut, terjadi pula fenomena sebaliknya yaitu mendinginnya suhu permukaan laut akibat menguatnya upwelling. Kebalikan dari fenomena ini selanjutnya diberi nama La-Nina (juga bahasa Spanyol) yang berarti “anak perempuan” (oseanografi.blogspot.com., 2005). Fenomena ini memiliki periode 2-7 tahun..

Elnino

El-Nino (gambar di atas) akan terjadi apabila perairan yang lebih panas di Pasifik tengah dan timur meningkatkan suhu dan kelembaban pada atmosfer yang berada di atasnya. Kejadian ini mendorong terjadinya pembentukan awan yang akan meningkatkan curah hujan di sekitar kawasan tersebut. Bagian barat Samudra Pasifik tekanan udara meningkat sehingga menyebabkan terhambatnya pertumbuhan awan di atas lautan bagian timur Indonesia, sehingga di beberapa wilayah Indonesia terjadi penurunan curah hujan yang jauh dari normal (gambar di bawah)

Normal

Suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur menjadi lebih tinggi dari biasa pada waktu-waktu tertentu, walaupun tidak selalu. Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya fenomena La-Nina (gambar di bawah). Tekanan udara di kawasan equator Pasifik barat menurun, lebih ke barat dari keadaan normal, menyebabkan pembentukkan awan yang lebih dan hujan lebat di daerah sekitarnya

Lanina

Kejadian El-Nino tidak terjadi secara tunggal tetapi berlangsung secara berurutan pasca atau pra La-Nina. Hasil kajian dari tahun 1900 sampai tahun 1998 menunjukan bahwa El-Nino telah terjadi sebanyak 23 kali (rata-rata 4 tahun sekali). La-Nina hanya 15 kali (rata-rata 6 tahun sekali). Dari 15 kali kejadian La-Nina, sekitar 12 kali (80%) terjadi berurutan dengan tahun El-Nino. La-Nina mengikuti El-Nino hanya terjadi 4 kali dari 15 kali kejadian sedangkan yang mendahului El-Nino 8 kali dari 15 kali kejadian. Secara umum, hal ini menunjukkan bahwa peluang terjadinya La-Nina setelah El-Nino tidak begitu besar. Kejadian El-Nino 1982/83 yang dikategorikan sebagai tahun kejadian El-Nino yang kuat tidak diikuti oleh La-Nina.

from: mbojo.wordpress.com
BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

JENIS - JENIS BAHAN PENGAWET DALAM PEMELIHARAAN ALAT TANGKAP

Agar Alat-alat penangkap ikan tetap awet, terutama yang terbuat dari serat alami, para nelayan Sering menggunakan bahan-bahan tertentu dalam proses perawatanya, diantaranya


Bahan Pengawet Hewani

Bahan-bahan pengawet yang berasat dari binatang/hewan, yaitu :


1. Putih Tetur

Cara pengawetannya adalah
• Dari kurang lebih 10 butir tetur diambil putihnya saja, lalu ditampung pada suatu wadah/tempat, seperti wajan atau ember;
• Bahan yang akan diawetkan biasanya Lawe (Lawe yaitu suatu bahan serat yang apabila dipintal akan menjadi benang) dimasukkan ke dalam tempat yang telah diisi dengan putih telur;
• Kemudian setelah semua masuk, aduk-aduk selama kurang lebih 10 - 15 menit hingga merata dan cairan putih telurnya meresap;
• Lalu dikeringkan dengan jalan dijemur ditempat yang tidak tertalu panas (teduh) dan diangin-angikan.


2. Darah Kerbau
Biasanya alat yang akan diawetkan dengan darah kerbau, sebelumnya tetah diawetkan dengan menggunakan putih tetur (pengawet hewani) atau tingi (pengawet dari tumbuh-tumbuhan). Peralatan yang dibutuhkan datam pengawetan dengan menggunakan darah kerbau, yaitu ; tungku pemanas dan drum atau wajan yang terbuat dari tanah. Adapun cara pengawetannya, antara lain :

■ Alat yang akan diawetkan dicelupkan ke dalam drum/wajan yang berisikan darah kerbau yang masih segar, terus aduk-aduk hingga merata, kurang lebih 15 menit;
■ Setelah merata lalu dikukus selama kurang lebih 10 - 15 menit;
• Setelah pengukusan terus dikeringkan dengan jalan dijemur di tempat yang agak teduh dan diangi-anginkan;

■ Darah kerbau yang masih menempel pada alat, saat proses pengeringan harus digosok-gosok supaya rata dan memadat

sumber : Dinas Perikanan Propinsi jabar 2008 BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Istilah Yang Biasa Ditemukan Dalam Penangkapan Ikan

Kapal Semua perahu, dengan nama apapun juga, kecuali jika ditentukan atau diperjanjikan lain, maka kapal itu dianggap meliputi segala alat pertengkapannya (UU Hukum Dagang, pasal 309).

Kapal Laut Biasa - Alat pengangkutan yang digunakan di laut (UU Hukum Dagang , pasal 310).

Kapal Niaga Setiap kapal yang digerakan secara mekanis yang digunakan untuk pengangkutan barang/manusia dengan pungutan biaya (Soekardono, 1981).

Pelabuhan Tempat yang terdiri dari daratan dan perairan disekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang digunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang dilengkapi dengan fasilitas dan/atau pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi.


Pelabuhan Pasang Pelabuhan baru dapat dipergunakan dalam waktu air pasang dan kapal dapat memasuki perairan tersebut dengan aman sebaliknya pada waktu air pasang turun tidak berfungsi lagi.

Pelabuhan buatan : Pelabuhan yang dibuat atas campur tangan manusia dan dapat dilakukan dengan menggali atau memperdalam perairan pelabuhan tersebut , contohnya pelabuhan Tanjung Priok - Jakarta dan Tanjung, Perak - Surabaya.


Pelabuhan Alam Pelabuhan yang dibentuk oleh alam tanpa campur tangan manusia sedikipun, contohnya petabuhan Makasar dan pelabuhan Ambon.

Pelabuhan Terbuka Pelabuhan laut yang ditunjuk oteh peraturan perundang - undangan pelayaran, perdagangan luar negeri artinya merupakan pelabuhan Samudera yaitu pelabuhan dimana kapal negara asing diperbolehkan masuk dan berlabuh serta melakukan bongkar muat lengkap dengan fasilitas-fasititas peralatan kepelabuhan kapal berbendera asing tanpa izin tertentu bebas masuk pelabuhan laut baik yang berfungsi sebagai kapal pembawa barang import maupun eksport dan kapal pesiar.


Dermaga (Jembatan Pendarat) - Tempat dimana kapal dapat bebas bersandar serta melakukan bongkar muat barang termasuk hewan dan manusia dengan tenang dan aman.

Pengusaha Kapal Seorang yang mengusahakan kapal untuk pelayaran dilaut dan mengemudikannya sendiri atau oleh orang lain yang biasa disebut nakhoda.

Nakhoda Seorang tenaga kerja yang telah menandatangani perjanjian kerja laut dengan perusahaan pelayaran sebagai nakhoda, yang memenuhi syarat dan tercantum dalam Sijil Anak Buah Kapal sebagai nakhoda ditandai dengan mutasi dari perusahaan dan pencantuman namanya dalam Surat Laut.

• Nakhoda Sebagai Pemimpin Kapal Semua yang ada diatas kapal seperti ABK , penumpang dan pemilik kapalpun harus tunduk pada nakhoda selama pelayaran. ABK yang akan turun ke darat saat kapal berlabuh harus meminta izin pada nakhoda.

Nakhoda Sebagai Jaksa,. Nakhoda harus bisa mengatasi masalah, menanggulangi, menahan, mengamankan dan mengusut perkara yang dituangkan dalam Berita Acara.

• Nakhoda Sebagai Pegawai Catatan Sipil Nakhoda harus mencatat orang yang melahirkan, meninggal maupun menikah diatas kapal dengan disaksikan oleh dua orang saksi.

Nakhoda sebagai Notaris : Nakhoda dapat diminta untuk menjadi notaries dalam pembuatan surat warisan yang ditandatangani oleh akhli waris dan disaksikan oleh dua orang saksi.

anak buah kapal Semua orang yang berada dan bekerja dikapal kecuali nakhoda, baik sebagai perwira bawahan (kelasi) yang tercantum dalam Sijil Anak Buah Kapal.

Fishing Suatu usuha penangkapan ikan / pengumpulan ikan dan jenis - jenis akuatik yang mempunyai nilai ekonomis.


Fishing Day Waktu (jumlah hari) yang digunakan untuk satu operasi penangkapan.

Fishing operation Operasi penangkapan ikan.

Trip Duration : Waktu yang digunakan dari mulai load sampai unload, termasuk lama waktu pelayaran dari danke fishing ground.

Actual Fishing Day Jumlah hari dimana usaha penangkapan betul-betul dilakukan, tidak termasuk hunting day (pelayaran menemukan fishing ground yang baru).

Fishing Trip Jumlah pelayaran untuk tujuan penangkapan dalam satu satuan waktu (bulan, tahun) sering disingkat Trip/Month, Trip/Year.

Fishing Technique Teknik yang digunakan untuk penangkapan seperti teknik mengemudi kapal, membuat dan mengoperasikan kapal.


Fishing Methods Cara yang digunakan untuk menangkap ikan.

Fishing Gears - Alat yang digunakan untuk menangkap ikan.

Fishing, Boat : Kapal yang digunakan untuk menangkap ikan.

fishing Tactics Cara pengoperasian jaring dan cara untuk memanfaatkan kebiasaan ikan bergerombol.

Bulk Fishing Alat tangkap yang mampu menangkap ikan dalam jumlah besar.

Fishing Ground Perairan tempat melakukan penangkapan ikan.

Fishing Port Pelabuhan tempat merapatnya kapal penangkapan.

catcable area Tempat dimana ikan dapat ditangkap.

sumber : Dinas Perikanan Provinsi Jabar, 2008 BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

ALAT BANTU PADA PENANGKAPAN IKAN

Mesin
Mesin yang digunakan untuk menggerakan kapal penangkapan. Mesin ini juga menentukan berapa besar kapal yang digunakan untuk menangkap ikan, satuannya adalah GT. Kita mengenal dua jenis mesin yaitu mesin untuk menggerakan kapal dan mesin untuk mengoperasikan alat.


Palka merupakan tempat untuk menyimpan ikan hasil tangkapan. Ukurannya bermacam macam, tergantung dari kebutuhan dan besarnya kapal. Bahan dasarnya ada yang dari kayu,
yang ada juga yang dari fiber.

es batu
Es diperlukan untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan. Ada yang berbentuk balokan ada juga yang berbentuk curah.


Garam yang digunakan adalah garam kasar. Ada yang menyebutnya garam ikan ada juga yang menyebutnya garam pindang, namun garam ini jarang digunakan karena akan merubah tekstur dan rasa dari ikan.


Pelampung

Pelampung yang sering kita temukan dikapal penangkapan ada dua macam, yaitu pelampung untuk jaring tangkap dapat juga untuk tanda awal penebaran jaring ; yang kedua pelampung untuk penumpang/ nelayan. Pelampung untuk penumpang/nelayan ada yang berbentuk bulat seperti ban mobil, lonjong seperti botol, kotak kotak dan ada juga yang model rompi.


Pemberat

Pemberat diperlukan untuk untuk menenggelamkan alat penangkapan seperti pancing dan jaring, ada juga yang digunakan untuk menancapkan jangkar. Bahan pemberat hampir seluruhnya terbuat dari bahan logam namun ada juga yang terbuat dari semen/batu.


umpan

umpan yang dipasang dialat penangkapan gunanya untuk menarik ikan agar datang mendekati alat dengan kata lain umpan merupakan jebakan bagi ikan, Jumlah umpan yang dibutuhkan tergantung kebutuhan, jenis alat tangkap dan jenis ikan yang ditangkap. Ada umpan buatan, ada umpan hidup dan ada juga umpan palsu.



Cahaya Dilihat dari sumbernya cahaya ada dua, yang berasal dari listrik/batere atau yang langsung dari matahari. Ikan tertarik pada cahaya melalui penglihatan (matanya) dan rangsangan melalui otak (Lineal region pada otak). Dengan demikian ikan yang tertarik pada
cahaya hanya ikan-ikan fototaxis yaitu ikan jenis pelagis dan sedikit ikan demersal dan sebaliknya ikan yang tidak menyenangi cahaya disebut ikan fotophobi.


Ada beberapa alasan mengapa ikan tertarik pada cahaya, diantaranya :


Penyesuaian intensitas cahaya dengan kemampuan mata ikan untuk tertarik pada satu sumber cahaya. Ada ikan yang tertarik pada intensitas cahaya yang rendah, ada yang tertarik pada intensitas yang, tinggi dan ada juga yang menyukai intensitas tinggi dan rendah. Ikan mempunyai kemampuan melihat cahaya dalam kegelapan.

sumber : Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat, 2008

BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Prinsip Tertariknya Ikan Pada Cahaya

Prinsip Tertariknya Ikan Pada Cahaya

Menurut Ayodhyoa (1981), tertariknya ikan pada cahaya dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
• Tertarik secara langsung oleh cahaya contohnya Ikan Sardinella Kembung dan Layang.

• Tertarik secara tidak tangsung : Jika ada cahaya, maka plankton, ikan-ikan kecil dan sebagainya akan berkumpul dengan tujuan "Feeding", seperti Ikan Tenggiri, Cendro dll.


Letak Cahaya

Dilihat dari letak cahaya maka kita dapat membedakan antara lampu yang diletakan di atas permukaan air (Surface lamp) dan lampu yang yang diletakan di dalam air (Under water lamp) dengan perbedaan sebagai berikut :

Lampu Yang Diletakan Diatas Permukaan Air:

■ Memerlukan waktu yang lama untuk mengajak ikan berkumpul;

• Kurang efisien dalam penggunaanya, hal ini dikarenakan sebagian cahaya diserap oleh udara, terpantul oleh gelombang yang berubah-ubah, kemudian diserap oleh air sebelum sampai ke kedalaman tertentu;

■ Waktu yang diperlukan oleh ikan untuk naik kepermukaan
lebih lama dan saat ikan menuju ke cahaya ada kemungkinan
ikan berenang kemana-mana (berserakan), sehingga sulit untuk menangkapnya;

• Ikan sukar berada dalam gerakan tenang karena lampu dikapal bergerak akibat gerakan gelombang dengan demikian gelombang intensitas cahaya berubah - ubah.


lampu Yang Diletakan Di dalam air :

Waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan ikan lebih sedikit, karena didekatkan dengan gerombolan ikan;

■ Penggunaan cahaya lebih efisien karena tidak ada penyerapan dan pemantulan;

▪ Ikan menghampiri cahaya dengan tenang karena tidak ada gelombang sehingga ikan yang ditangkap pun dalam keadaan tenang;

• Ikan yang telah berkumpul disekitar cahaya tidak akan berserakan lagi.


Persyaratan dalam menggunakan cahaya

Persyaratan Lingkungan
Persyaratan lingkungan yang harus diperhatikan terutama pada malam hari, haruslah gelap. Hal ini berhubungan dengan fase bulan, yaitu bulan terang, dan bulan gelap. Jadi cahaya hanya dapat digunakan saat bulan gelap dan malam hari, tidak dapat digunakan pada Siang hari. Persyaratan lainnya adalah air harus hening atau tidak terlalu keruh dan gelombang tidak terlalu besar.


Persyaratan penangkapan.

Selain lingkungan ada persyaratan lain agar hasil tangkapan maksimal, yaitu :

Cahaya harus mampu menarik perhatian ikan dari jarak jauh baik secara vertical maupun horizontal;

Ikan harus digiring kecahaya yang berada diareal penangkapan;

Menjaga ketenangan ikan selama berada didaerah penangkapan, sehingga ikan tidak berusaha melarikan diri.


Berbagai jenis lampu digunakan oleh nelayan pada light fishing. Mulai dari yang sederhana sampai yang lebih modern. Di Indonesia, nelayan tradisional menggunakan lampu strongkin

sumber : dinas Perikanan Provinsi Jabar, 2008 BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

gambar jenis lampu yang digunakan untuk menangkap ikan


BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Jenis -jenis alat Tangkap yang Menggunakan Alat Bantu Cahaya

Berbagai jenis alat tangkap mulai dari yang tradisional sampai alat tangkap modern telah memanfaatkan cahaya sebagai alat bantu. Jenis-jenis alat tangkap berupa bagan tancap di Perairan Sulawesi Selatan menggunakan lampu strong, kin (pressure lamp) sebagai sumber cahaya. Begitu pula alat tangkap purse seine yang beroperasi pada malam hari tersebar luas di Perairan Indonesia merupakan alat tangkap yang memanfaatkan cahaya sebagai alat bantu (lihat gambar 3.4), Sedangkan bagaimana cara kerja pressure lamp dapat di lihat pada gambar 3.5.







Begitu pula bagan raksasa yang, sifat mobilenya menggunakan lampu mercury sebagai alat bantu. Di Rusia kita kenal perikanan Kilka, sedangkan di Philipina dikenal perikanan basnig dan di Jepang dikenal dengan perikanan Sanno (pacific saucy) (Ayodhyoa, 1981) semuanya menggunakan alat bantu cahaya.

Dengan demikian, cahaya telah memberikan andil yang besar datam pemanfaatan sumber daya perikanan. Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknotogi diharapkan dapat membantu pengembangan light fishing ke arah yang lebih maju tagi.

sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat, 2008 BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Jenis-jenis Alat Tangkap Rumpon

JENIS -JENIS ALAT TANGKAP RUMPON

Rumpon merupakan salah satu alat penangkapan yang banyak digunakan oleh nelayan di Jawa Barat. Istilah lain rumpon dikenal dengan nama FAD (Fish Agregation Device) sedangkan fungsi dari rumpon ini untuk memikat ikan agar berkumpul di satu daerah penangkapan.

Penggunaan rumpon tradisional di Indonesia banyak ditemukan di daerah Mamuju (Sulawesi Setatan) dan Jawa Timur. Menurut Monintja (1993) rumpon banyak digunakan di Indonesia pada tahun 1980, sedangkan Negara yang sudah mengoperasikan rumpon diantaranya Jepang, Philipina, Srilanka, Papua Nugini dan Australia. Beberapa alasan mengapa ikan sering ditemukan disekitar rumpon:

I . Banyak ikan- ikan kecil dan plankton yang berkumpul disekitar rumpon dimana ikan dan plankton tersebut merupakan sumber makanan bagi ikan besar.

2. Ada beberapa jenis ikan seperti tuna dan cakalang yang menjadikan rumpon sebagai tempat untuk bermain sehingga nelayan dapat dengan mudah untuk menangkapnya.

Nelayan dapat mengetahui banyak ikan di daerah rumpon dengan beberapa ciri yang khas yaitu :
1. Banyaknya buih - buih atau gelembung udara dipermukaan air.



2. Warna air akan terlihat lebih gelap dibandingkan dengan warna air disekitarnya karena banyak ikan yang bergerombol.


4.1.1. Bahan dan Komponen Rumpon
Setiap rumpon terdiri dari beberapa komponen seperti pada Tabel 4.1 di bawah ini. Di Indonesia rumpon masih menggunakan bahan alami seperti daun kelapa, tali plastik yang sudah pasti kekuatannya sangat terbatas.


Tabel 4.1.
Komponen Pokok dan Bahan dari Sebuah Rumpon


1. Float bahannya Bambu, Plastik

2. Tali Tambang (mooring line), bahannya Tali,Wi re, Rantai, Swiwel

3. Pemikat ikat (atractor) bahannya Daun Kelapa, Jaring Bekas

4. Pemberat (bottom sinker) bahannya Batu, Beton



Jenis- jenis Ikan yang Banyak Ditemukan di Sekitar Rumpon

Tidak semua ikan ditemukan disekitar rumpon. Ikan jenis pelagis merupakan ikan dominan yang sering ditemukan didalam rumpon. Dalam Table 4.2., di bawah dapat kita lihat ikan apa saja yang sering berada disekitar rumpon.


4.1.3. Konstruksi Rumpon

Di Jawa Barat konstruksi rumpon masih sederhana sekali, pada umumnya pelampungnya dari bambu dan tali temalinya dari bahan plastik atau rotan, pemberatnya dari batu gunung atau batu karang sedangkan atraktornya menggunakan daun kelapa. Rumpon jenis ini banyak dioperasikan di laut yang dangkal dengan tujuan untuk rnengumpulkan ikan pelagis yang kecil - kecil. Untuk perairan yang mempunyai kedalaman sampai ribuan meter digunakan tali


Tabel 4.2.

jenis-jenis Ikan yang Sering Berasosiasi dengan Rumpon
(Monintia, 1993)

1. Cakatang - Skipjack- (Katsowonus pelamis)
2. Tongkol - Frigate Tuna- (Auxis thazard )
3. Tongkol Pisang-Frigate Tuna- Euthynnus affinis
4. Tenggiri- King Mackeret- Scomberomorus sp
5. Madidihang -Yellow Fin Tuna- Thunnus albacares
6. Tembang -Frigate Sardin - Sardinella firnbriato
7. Japuh Rainbow -Sardin -Dussumeria hosselti


sintetis dan biasanya jenis ikan yang berkumpul di situ adalah ikan layang, tuna dan cakalang.
Di negara maju seperti Jepang dan Philipina rumpon yang dipasang selalu dilengkapi alat penditeksi ikan yang dapat memonitor dari kapal penangkapannya.

Konstruksi berbagai jenis rumpon yang terdapat di perairan Indonesia dapat dilihat pada gambar 4. 1, antara lain :




Agar kepemilikkan rumpon tidak tertukar atau hilang, maka diberi tanda, misalnya dengan bendera, pelampung, cermin atau tanda lain sesuai keinginan pemiliknya. Gambar 4.21.1 memperlihatkan contoh jenis -jenis tanda yang dipasang dirumpon.

yang Penelitian tentang rumpon terus dilakukan oleh peneliti-peneliti kita. Pada tahun 1999 Arsyad telah melakukan penelitian atraktor rumpon, dia telah mengganti daun kelapa dengan daun lontar dengan asumsi daun lontar jauh lebih tahan dari daun kelapa dan hasilnya sangat berbeda nyata (Gambar 4.3). Rumpon dari daun lontar memberikan hasil tangkapan yang lebih banyak.

sumber : Dinas Perikanan Propinsi, Jabar, 2008 BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Trawl (Pukat Harimau)

Trawl ( Pukat Harimau)

Kata Trawl berasal dari bahasa Perancis yaitu Troler dan Trailing dalam bahasa Inggris dimana mempunyai kesamaan arti yaitu TARIK atau KELILING SAMBILMENARIK .
Alat penangkapan ini di Jawa Barat lebih sering disebut pukat harimau karena rakusnya menangkap semua jenis dan ukuran ikan sehingga berdampak negatip pada kelestarian alam sehingga pemerintah mengeluarkan Kepres. No.39 Tahun 1980 yang berisi larangan pengoperasian pukat harimau di Indonesia dan hanya diizinkan dioperasikan untuk kapal-kapal peneliti.

Dengan berbagai perubahan komponen ada beberapa Trawl yang diizinkan beroperasi di Indonesia seperti kita temukan di laut Arafura yang digunakan untuk menangkap udang dan dikenal dengan nama pukat udang.

Asal Trawl ini tidak diketahui dengan pasti namun alat ini sudah lama dioperasikan di Eropa dan banyak digunakan di daerah pantai dan tepas pantai (Gambar 4.4).



Bentuk Trawl terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi apalagi setelah jenis mesin untuk penangkapan makin maju. Dari Eropa berkembang ke negara Jerman, Pada gambar 4.5, dapat dilihat perkembangan bentuk trawl dari tahun ke tahun.


sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008 BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Jenis-jenis Trawl

Ayodhyua pada tahun 1981 membedakan jenis-jenis Trawl berdasarkan letak jaring dalam air menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu :

1. Surface Trawl (Jaring yang dioperasikan dipermukaan air).
Jaring ditarik dekat permukaan air (Surface Water) yang bertujuan untuk menarik ikan dipermukaan air. Ada beberapa kendala dalam pengoperasiannya, kecepatan menarik jaring harus lebih cepat dari kecepatan ikan berenang, oleh karena itu jenis Trawl ini sebaiknya digunakan untuk menangkap jenis ikan yang lambat berenangnya.


2. Mid Water Trawl (jaring yang dioperasikan diantara permukaan dan dasar perairan).
Jaring ditarik pada kedalaman tertentu dengan kecepatan tertentu secara horizontal. Untuk menjaga mulut jaring tetap terbuka, maka kecepatan kapal harus stabil. Di Eropa dan Kanada alat ini digunakan untuk menangkap ikan Herring sedangkan di Jepang masih dalarn taraf penetitian dan percobaan.


3. Bottom Trawl (jaring yang dioperasikan didasar perairan).
Jaring ini banyak digunakan karena dapat menjaring semua jenis ikan, udang dan kerang. Pada kenyataannya sering tertangkap ikan Demersal waktu jaring di angkat ke atas. Karena jaring dioperasikan di dasar taut, maka pertu diperhatikan beberapa persyaratan agar penangkapan berjalan baik tanpa merusak jaring , diantaranya :
• Dasar laut terdiri dari Lumpur dan pasir atau campuran keduanya, bukan berupa karang;
• Dasar laut bebas dari bangkai kapal atau benda lain yang dapat merusak jaring;
• Perbedaan dasar laut tidak terlalu menyolok;
• Kecepatan arus pasang tidak terlalu besar;
• Keadaan cuaca tenang (tidak ada angin topan dan gelombang besar);
• Perairan mempunyai sumber ikan yang banyak.

sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar , 2008 BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Jenis-jenis Trowl Berdasarkan Pengoperasiannya

Jenis- jenis Trawl Berdasarkan Pengoperasiannya

Dilihat dari cara pengoperasiannya, Trawl dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu :
1. Side Trawl Pada waktu pengoperasiannya ditarik pada sisi kapal;


2. Stern Trawl Trawl Trawl yang ditarik pada bagian belakang kapal;

3.. Double Rig Trawl Trawl yang ditarik melalui dua rigger yang dipasang pada kedua lambung kapal.


Beberapa perbedaan cara pengoperasian Trawl dilihat dari segi operasinya, antara lain :
1. Stern Trawl tidak banyak dipengaruhi oleh angin dan gelombang. dapat melepas jaring tanpa memutar kapal karena jaring tidak terpengaruh oleh angin dan gelombang;

2, Pada Stern Trawl Warp berada lurus pada garis haluan buritan,

sehingga tenaga Trawl akan menghasilkan daya guna yang maksimal, sedang pada Side Trawl ditarik melalui beberapa roller, yang berakibat sebagian tenaga akan hilang beralih pada roller tersebut.

3. Pada Stern Trawl, akibat dari Screw Current, jaring akan segera hanyut. Demikian juga otter board, segera setelah dilepas akan terus membuka. Pada Side Trawl, tenaga Current tidak bermanfaat bagi pembukaan jaring.

sumber : Dinas perikanan propinsi jabar, 2008 BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

jenis-jenis trawl berdasarkan jumlah dan alat untuk membuka mulut Jaring

Jenis-.jenis Trawl Berdasarkan Jumlah Kapal

Berdasarkan jumlah kapal yang digunakan untuk menarik Trawl, maka Trawl dapat dibagi atas :

1. One Boat Trawl, yaitu Trawl yang ditarik dengan sebuah kapal;

2. Two Boat Trawl, yaitu Trawl yang ditarik oleh dua buah kapal.



Jenis - jenis Trawl Berdasarkan Alat Untuk Membuka Mulut Jaring

Jenis - jenis Trawl berdasarkan alat untuk membuka mutut jaring, dikenal juga:
1. Bean Trawl, yaitu Trawl yang menggunakan bean (bentangan).
2. Otter Trawl, yaitu Trawl yang menggunakan otter board
untuk membuka mulut jaring.

sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat, 2008 BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Perlengkapan Trowl

Pada umumnya kapal Trawl terbuat dari steel dan "main engine" dilengkapi yang digerakan oleh diesel atau steam. Kapat dilengkapi dengan Trawl Winch sebagai tenaga penggerak dan ada juga yang menggunakan Steam Engine serta ada pula yang menggunakan motor.

Ukuran jaring yang digunakan berbeda-beda dan untuk
menyatakan ukuran jaring biasanya digunakan satuan feet atau meter, misalnya jaring 120 feet, berarti panjang boat rope adalah 120 feet.

from: http://hobiikan.blogspot.com/2009/03/perlengkapantrawl.html BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Tekhnik Pengoperasian Trowl

Dalam kecepatan dan waktu penarikan jaring, jaring dapat ditarik secara cepat namun perlu diperhatikan juga beberapa kendala seperti ; terbukanya mulut jaring, apakah posisi jaring sesuai dengan yang, diinginkan, berapa kekuatan kapal untuk menarik dan ketahanan jaring di dalam air.


Pada umumya kecepatan yang digunakan untuk menarik jaring antara 3 - 4 knot, namun kecepatan ini juga berhubungan dengan kecepatan renang ikan, keadaan dasar laut, arus, angin dan gelombang. Dengan memperhatikan ketentuan di atas maka kecepatan tarik bisa ditentukan.
Lama waktu yang diperlukan untuk penarikan suatu jaring ditentukan oleh banyak sedikitnya ikan. yang diduga akan tertangkap, pekerjaan didek, jam kerja crew dan lain sebagainya.

Pada umumnya waktu penarikan yang diperlukan sekitar 3 - 4 jam, bahkan jika semuanya memungkinkan bisa juga hanya memerLukan juga waktu 1 - 2 jam saja.
sumber dinas Perikanan Prop.Jabar 2008 BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Trap (perangkap)

Trap atau perangkap merupakan alat penangkap ikan yang dipasang secara tetap di dalam air dengan jangka waktu tertentu untuk mempermudah masuknya ikan dan mempersulit keluarnya. Biasanya Trap atau perangkap ini dibuat dari bahan-bahan alami seperti; bambu, kayu atau juga bahan buatan lainnya seperti jaring.


Untuk pengoperasian beberapa jenis alat tangkap yang termasuk ke dalam jenis Trap, ada yang dioperasikan dipermukaan air yang biasa digunakan untuk menangkap ikan terbang, namun kebanyakan dioperasikan di dalam dasar perairan yang digunakan untuk menangkap ikan-ikan demersal.



Jenis - jenis Trap


Beberapa jenis Trap yang banyak digunakan dalam penangkap ikan diantaranya :


Bubu Dasar
Bubu dasar dapat terbuat dari anyaman bambu (bamboo netting), anyaman rotan (rattan netting) dan anyaman kawat (wire netting) dengan derican berbagai macam bentuk (Gambar 4.9). Dalam pengoperasiannya dapat memakai umpan atau tanpa umpan.




Bubu Hanyut


Bubu hanyut pada prinsipnya hampir sama dengan bubu dasar, namun dikhususkan untuk menangkap ikan terbang (flaying fish) serta pada bagian luar bubu dipasangkan untaian daun ketapa. Pantai Barat Sulawesi Setatan, bubu hanyut digunakan juga untuk mengumpulkan tetur dari ikan terbang. Dalam bahasa lokat disebut "patorani" dimana atat ini clioperasikannya pada saat musim timur, yaitu musim pemijahan dari ikan terbang di Laut Flores, sehingga bubu hanyut ini dalam pengoperasiannya hanya digunakan pada saat musim-musim tertentu Baja.



sero
Sero (guilding barrier) merupakan saLah satu atat penangkapan
ikan yang dipasang secara tetap di dalam air, biasanya terdiri dari susunan pagan-pagan yang berfungsi menuntun ikan agar masuk ke daLam perangkap. Terbuat dari kayu, atau bambu.



Jermat
Jermat adatah perangkap yang terbuat dari jaring berbentuk kantong dan dipasang semi permanen menantang/ berlawanlan dengan arus (biasanya arus pasang surut) digunakan untuk
memanfaatkan ikan-ikan yang mengikuti arus. Jermat merupakan atat penangkap ikan yang sangat sederhana, dimana pemasangannya ditempatkan pada daerah-daerah berarus yang banyak terdapat ikannya.



Set Net
Set Net hampir sama dengan Sero dilihat dari segi prinsip penangkapannya. namun Set Net lebih modern dibandingkan dengan Sero dan daerah penangkapannya pun tidak hanya di daerah pinggir pantai bahkan dapat lebih jauh dari pinggir pantai. Jaringnya merupakan suatu bangunan yang diletakan di dalam air . Alat tangkap jenis ini sangat berkembang baik di Jepang.
Set Net digunakan untuk memanfaatkan ikan-ikan yang senang bermigrasi ke daerah pantai dimana jalan yang dilalui ikan tersebut dihadang oleh lead net, akibatnya ikan akan menuju jaring.
Set Net dapat dibedakan dari ukurannya, Set Net yang berukuran sedang disebut "hisago-cmi", yang berukuran besar disebut "otoshi-cmi" dan yang berukuran besar namun lebih lengkap disebut dengan "masu-ami".


sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar 2008
BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

kelebihan dan kelemahan alat tangkap

Line Fishing, merupakan teknik penangkapan ikan dengan menggunakan pancing, dengan istilah lainnya disebut hook and line atau angling yaitu alat penangkapan ikan yang terdiri dari tali dan mata pancing. Pada teknik penangkapan ikan, ini umumnya mata pancing dipasang umpan, baik umpan asli berupa ikan, udang dan organisme lainnya maupun umpan buatan yang terbuat dari kayu, plastik dan lainnya dibentuk menyerupai ikan ataupun udang. Kedua jenis umpan tersebut berfungsi untuk menarik perhatian ikan.


Pada teknik penangkapan ikan ini, alat pancingnya terdiri dari mata pancing, tali pancing no dan umpan, biasanya juga ditambahkan dengan perlengkapan lainnya seperti joran, pelampung., , pemberat dan lain-lain. Menurut Ayodhyoa (1931) alat penangkapan ini mempunyai segi-segi positif, yaitu

1 . Alat-alat pancing tidak susah dan mudah dalam pengoperasiannya;
2. Organisasi usahanya kecil, dengan modal sedikit usaha pancing, sudah dapat berjalan;
3. Syarat-syarat fishing ground-nya relatif sedikit dan dapat dengan bebas memilih;
4. Pengaruh cuaca, suasana laut dan sebagainya relatif kecil;
5. Ikan-ikan yang ditangkap satu per satu sehingga kesegaran dapat terjamin.


Namun dari segi-segi positif di atas, teknik penangkapan ikan ini mempunyai beberapa kelemahannya, yaitu :

1. Jumlah ikan yang ditangkap relatif sedikit;
2. Umpan sangat berpengaruh terhadap jumlah kali operasi yang dapat dilakukan;
3. Keahlian sipemancing sangat menonjol walaupun tempat, waktu dan persyaratan lainnya sama, hashil tangkapnya akan berbeda beda satu sama lainnya;
4. Pancing terhadap ikan adalah pasif, pancing akan ditarik setelah ikan memakan umpannya.

sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat, 2008 BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Hand Line

Hand Lines


Alat tangkap pancing Hand Lines merupakan alat pancing yang sangat sederhana, terdiri dari pancing, tali pancing dan umpan. Jumlah mata pancingnya satu buah bahkan lebih, bisa menggunakan umpan asli maupun buatan. Namun ukuran pancing dan besarnya tali pancing disesuaikan dengan besarnya ikan yang akan ditangkap, seperti untuk menangkap Ikan Tuna menggunakan tali monofiloment dengan diameter 1,5 - 2,5 mm dengan pancing nomor 5 - 1 dan ditambahkan timah sebagai pemberat.

sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008 BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Pole & Line

Pole and Line disebut juga "huhate" merupakan alat penangkap ikan yang sangat sederhana dalam hal desainnya. Terdiri dari joran, tali dan mata pancing. Dalam pengoperasiannya alat penangkap ikan jenis ini memerlukan umpan hidup untuk dapat merangsang kebiasaan menyambar mangsa pada ikan.

Sebelum pemancingan terlebih dahulu dilakukan penyemprotan air untuk mempengaruhi visibility ikan terhadap kapal atau para pemancing. Umpan hidup disesuaikan ukuran dan jenis tertentu, disimpan, dipindahkan dan dibawa dalam keadaan hidup, oleh karenanya sistem penangkapan umpan hidup dan desain kapal disesuaikan dengan tempat penyimpanan umpan hidup agar umpan hidup dapat tahan sampai waktu panggunaannya.

sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008 BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

deskripsi alat tangkap Pole and Line

Adapun deskripsi alat tangkap Pole and Line ini adalah sebagai berikut :

1. Joran (galah) terbuat dari bambu (umumnya berwarna kuning) yang cukup tua dan tingkat elastisitas yang baik. Panjang joran berkisar 2 - 2,5 meter dengan diameter bagian pangkal 3 - 4 cm dan bagian unjuk berkisar 1 -1,5 cm.

2. Tali Utarna (main line) terbuat dari bahan sintetis polyethilene dengan panjang sekitar 1,5 - 2 meter disesuaikan dengan panjang jorannya, cara pemancingan, tinggi haluan kapal dan jarak penyemprotan air. Diameter tali 0,5 cm dan nomor tali adalah no. 7.
3. Tali Sekunder terbuat dari bahan monopilament berupa tali berwarna putih sebagai pengganti kawa baja (wire leader) dengan panjang, berkisar 20 cm.
4. Mata Dancing (hook) yang tidak berkait batik. Mata pancing yang digunakan bernomor 2,5 - 2,8 . pada bagian atas mata pancing terdapat timah berbentuk Blinder dengan panjang sekitar 2 cm dan berdiameter 8 mm serta dilapisi nikel agar tertihat lebih mengkilap.


Sisi luar sunder terdapat cincin untuk mengikat tali sekunder, dibagian mata pancing dilapisi guntingan tali rapia berwarna berbentuk rumbai-rumbai yang berfungsi sebagai umpan tiruan.
Pengoperasian atat tangkap Pole and Line bisa dilakukan dekat rumpon, sementara pemancing sudah bersiap disudut kiri kanan pada haluan kapal (cara mendekati ikan harus dari sisi kiri dan kanan bukan dari arah belakang, lihat gambar 4.17).


Pada saat jarak jangkau, umpan dilemparkan yang kemudian ikan dituntun ke arah haluan kapal. Pelemparan umpan dilakukan secepat mungkin sehingga gerakan ikan dapat mengikuti gerakkan umpan menuju haluan kapal. Jangan lupa juga mesin penyemprot sudah difungsikan agar ikan tetap berada di dekat kapal. Waktu pemancingan tidak pertu dilakukan pelepasan ikan dari mata pancing, karena saat joran disentuhkan ikan akan jatuh ke atas kapal dan terLepas dengan sendirinya dari mata pancing.

Berdasarkan pengalaman dan keahlian, pemancing dikelompokan ke dalam 3 (tiga) kelas pemancing. Pemancing kelas I sebagai pemancing berpengalaman ditempatkan dihaluan kapal, pemancing kelas II di samping kapal dekat dengan haluan sedangkan pemancing kelas III ke samping kapal agak jauh dari haluan. Untuk memudahkan pemancingan maka pada kapal Pole and Line dikenaL adanva "flyinq deck" atau tempat pemancingan.

Jenis-jenis ikan yang merupakan hasil tangkapan utama dari aLat tangkap Pole and Line ini diantaranya ; Ikan Tuna, Wan Cakatang dan Ikan Tongkol.

sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat,2008 BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Rawai (long Line)

Rawai (Long Line) terdiri dari rangkaian tali utama dan tali pelampung, dimana pada tali utama pada jarak tertentu terdapat beberapa tali cabang yang pendek dan berdiameter lebih kecil dan di ujung tali cabang ini diikatkan pancing yang berumpan.

Rawai yang dipasang di dasar perairan secara tetap dalam jangka waktu tertentu disebut Rawai Tetap atau Bottom Long Line atau Set Long Line digunakan untuk menangkap ikan-ikan demersal (Gambar 4.18). Ada juga Rawai yang hanyut biasa disebut Dript Long Line digunakan untuk menangkap ikan-ikan pelagis.


Bahan tali pancing dapat terbuat dari bahan monofilament (PA) atau multifilament (PES seperti terylene, PVA seperti kuralon atau PA seperti nylon). Beberapa perbedaan dari ke dua jenis bahan tersebut dilihat dari segi teknis diantaranya

Bahan multifilament lebih berat dan mahal, mudah dalam perakitannya dan lebih sesuai untuk kapal-kapal kecil;

Bahan multifilament lebih tahan dan mudah ditangani, sehingga dalam jangka panjang harganya relatif lebih rendah; Monofilament lebih kecil, halus dan transparan, sehingga dalam pemakaiannya akan memberikan hasil tangkapan yang lebih baik.

Pelepasan pancing (setting) dilakukan menurut garis yang menyerong,, atau tegak lurus pada arus. Waktu pelepasan tergantung jumlah basket yang akan dipasang, diharapkan pada dini hari sehingga settingan selesai pada pagi hari dimana saat ikan sedang giatnya mencari mangsa.
Umpan yang umum dipakai adalah jenis ikan yang mempunyai sisik mengkilat, tidak cepat busuk Berta mempunyai rangka yang kuat tidak mudah lepas pada saat disambar ikan.





Beberapa jenis ikan yang digunakan sebagai umpan diantaranya ;Ikan Bandeng, ikan Saury, Ikan Tawes, ikn Kembung,
-
Ikan Layang dan Cumi-cumi Panjang umpan berkisar antara 15 - 20 cm dengan berat antara 80 - 150 gram.

sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat, 2008 BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Covering Net

Covering Net

Salah satu jenis alat tangkap dengan cara menutup ikan dari atas ialah Covering Net. Bentuk dari alat tangkap ini hampir sama dengan Cash Net (jala lempar) yang umum digunakan pada daerah-daerah yang dangkal seperti pada tambak udang dan ikan. Namun ada juga yang sudah modern seperti Pukat Sotong yang digunakan untuk menangkap Cumi-cumi yang banyak dikembangkan diperairan Malaysia.

sumber : dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008 BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Pancing Tonda

Pancing Tonda (Troling Line) adalah pancing yang diberi tali panjang dan ditarik olah perahu atau kapal. Pancing diberi umpan ikan segar atau umpan palsu. Karena adanya tarikan maka umpan akan bergerak di dalam air sehingga dapat merangsang ikan buas untuk menyambarnya.
Dipasaran terdapat banyak variasi dari Pancing Tonda, terutama untuk pada penggemar sport fishing. Biasanya untuk keperluan komersial hanya bagian desainnya saja yang banyak variasinya. Desain umum dan beberapa variasi dari Pancing Tonda ini dapat dilihat pada gambar 4.19 dan gambar 4.20.

Pengoperasian Pancing Tonda memerlukan perahu/kapal yang selalu bergerak di depan gerombolan ikan yang akan ditangkap. Biasanya pancing ditarik dengan kecepatan 2 - 6 knot tergantung dari jenisnya (Tabel4.3).



sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008 BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Jala Lempar

Jala lempar merupakan alat tangkap yang sederhana dan tidak membutuhkan biaya yang besar dalam pembuatan. Bahannya terbuat dari nilon multifilamen atau dari monofilamen, diameternya berkisar 3 - 5 m. Bagian kaki jaring diberikan pemberat terbuat dari timah.


Jala lempar dioperasikan menggunakan tenaga manusia, cara melemparnya menggunakan teknik-teknik tertentu (Gambar 4.23). Alat ini banyak dioperasikan di perairan seperti ; sungai, waduk dan danau serta perairan pantai berkedalaman berkisar 0,5 - 10 m. Jenis ikan yang umum ditangkap adalah jenis ikan yang bermigrasi ke daerah pantai seperti ; ikan belanak, julung-julung, udang dan lain-lain.


sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008 BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Pukat Sotong

Di Malaysia alat tangkap ini khususnya digunakan untuk menangkap Cumi-cumi dengan menggunakan cahaya sebagai alat bantu dan kapal fiberglass berukuran panjang 15,9 m dan lebar 3,6 m (Shahardin dan Mohd Said, 1989).


Alat ini dilengkapi dengan lampu dan jaring, menggunakan bingkai lampu yang panjangnya 4,6 m dan bingkai jaring 11,6 m berdiameter 10,2 cm. Lampu yang digunakan sebanyak 12 buah berkekuatan 500 watt/buah untuk menjangkau jarak 50 m di sekeliling kapal. Jaringnya terbuat dari nylon berbentuk segi empat. Kaki jaring berukuran 9,84 x 6,77 m, ukuran mata jaring 2,4 cm. Bagian mulut jaring dipasang cincin berdiameter 2,4 cm, jarak tiap cincin 0,76 m ditambahkan pemberat yang terbuat dari timah (Gambar4.21).


Operasi penangkapan dilakukan malam hari saat bulan gelap. Setelah menentukan lokasi (fishing ground) Lampu dinyalakan pada setiap sisi kapal, apabila kumpulan Cumi-cumi terlihat berkumpul disekitar kapal, lampu dipadamkan pada salah satu sisi kapal sehingga kumpulan Cumi-cumi akan terkonsentrasi di sisi kapal yang lebih terang dimana telah dipasang jaring (Gambar 4.22).
sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008
from: http://hobiikan.blogspot.com/2009/03/pukat-sotong.html BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Seine Net

Seine Net (Pukat Kantong)

Di Indonesia Seine Net disebut juga Pukat Kantong, karena jaringnya memiliki kantong dan 2 (dua) buah sayap, yang umumnya memiliki tali yang panjang.

Bentuk Pukat Kantong terdiri dari bagian kanton (cod-end) berbentuk empat persegipanjang, bagian badan bentuknya seperti trapesium memanjang. Pada bagian-bagian tersebut ditautkan tali penguat yang dihubungkan dengan tali ris atas (head rope) dan tali ris bawah (foot rope), dilengkapi dengan pelampung (float) dan pemberat (singker).

Tempat operasi penangkapannya dapat dikelompokkan menjadi Pukat Pantai (beach seine) yang dioperasikan di tepi pantai dan PukatTengah dengan pengoperasiannya agak jauh dari pantai.

sumber : Dinas Perikanan propinsi Jabar, 2008
from: http://hobiikan.blogspot.com/2009/04/seine-net-pukat-kantong.html BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Klasifikasi Teknik Penangkapan Ikan

Banyak alat tangkap yang digunakan untuk penangkap ikan di laut mulai dari yang sederhana sampai yang rumit pengoperasianya. Kemiripan bentuk juga kadang mempersulit kita untuk membedakan alat tersebut, namun jika kita lihat dari teknik penangkapannya maka dengan mudah kita menggunakannya.


Beberapa ahli telah membagi teknik penangkapan dengan melihat beberapa prinsip yang dipakai. Ada yang melihatnya dari titik pandang, tujuan dan kondisi perairan namun ada pula yang melihatnya dari keaktifan alatnya.


Klasifikasi Menurut Kamakichi Kishinouye

Kamakichi membagi teknik penangkapan ke dalam 10 (sepuluh) teknik , yaitu :

• Memaksa ikan dengan suatu kecepatan untuk memasuki daerah dimana alat tangkap beroperasi dengan menghadang air dari arah kiri dan kanan;

• Menghadang arah ikan renang (biasanya untuk jaring insang hanyut);

• Menyesatkan ikan kearah alat penangkap dengan cara menggiring ikan;

• Memudahkan ikan untuk masuk ke dalam alat penangkapan namun mempersulit jalan keluarnya (misalnya bubu);

• Menggarit (untuk kerang kerangan);

• Menjerat (misalnya jaring);

• Mengait (misalnya pancing);

• Mencemarkan lingkungan hidup ikan (ikan menjadi mabuk dan muda ditangkap);

• Membelit (misalnya jaring);

• Menjepit Lalu menangkapnya.


Klasifikasi Menurut Miyamoto Hideaki

Miyamoto membagi teknik penangkapan ke dalam 13 (tiga betas ) jenis :

• Menjerat atau membelit (jenis gillnet);

• Mengangkat keatas setelah ikan berada diatas alat;

• Menyungkup dari atas (jala);

• Melingkari (purse seine);

• Menyerok dari bawah (tangguk);

• Menyerok secara horizontal (trawl);

• Menusuk talu menangkap (tombak);

• Mengait (pancing);

• Menghadang dengan paksa;

• Menghadang dan mengarahkan ikan kealat penangkapan (sero);

• Mengundang untuk masuk alat namun mempersutit keluar (bubu);

• Menggaruk atau mengais (untuk yang terbenam dipasir);

• Menjepit latu memutir (untuk jenis kerang).


Klasifikasi Menurut Von Brandt

Von membagi klasifikasi penangkapan ikan menjadi 16 (enambelas), yaitu :

• Harvesting machines : Semua jenis alat penangkapan yang pengoperasiannya dengan mesin;

• Tangle nets : Penangkapan dengan menggunakan jaring seperti jaring klitik;

• Gill net : Semua jenis jaring insang;

• Penangkapan langsung tanpa menggunakan alat;

• Menggunakan atat untuk melukai seperti tombak;

• Menangkap dengan cara memabukan ikan seperti penggunakan bahan kimia portas;

• Menangkap dengan menggunakan pancing;

• Menangkap dengan menggunakan perangkap (bubu);

• Menangkap dengan menggunakan perangkap terapung (untuk menangkap ikan yang sedang melompat);

• Bagnets (menggunakan scope);

• Menangkap dengan cara menarik alat seperti jenis trawl;

• Seine nets (alat yang menggunakan sayap);

• Surrounding, nets (melingkarkan alat ke gerombolan ikan);

• Drive in nets (jaring yang ditarik dengan tangan);

• Lift nets (jaring angkat);

• Falling gear (Jaring yang ditempar dari atas kebawah (Jaring ta gear (Jaring lempar).

sumber : Dinas Perikanan Provinsi Jabar, 2008
from: http://hobiikan.blogspot.com/2009/02/klasifikasi-teknik-penangkapan-ikan.html BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Pelabuhan

Pelabuhan adalah sebuah fasilitas di ujung samudera, sungai, atau danau untuk menerima kapal dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Pelabuhan biasanya memiliki alat-alat yang dirancang khusus untuk memuat dan membongkar muatan kapal-kapal yang berlabuh. Crane dan gudang berpendingin juga disediakan oleh pihak pengelola maupun pihak swasta yang berkepentingan. Sering pula disekitarnya dibangun fasilitas penunjang seperti pengalengan dan pemrosesan barang. Peraturan Pemerintah RI No.69 Tahun 2001 mengatur tentang pelabuhan dan fungsi serta penyelengaraannya.

Jenis Pelabuhan

(Berdasarkan PP N.69 Tahun 2001)

a. Alamnya

  • Pelabuhan terbuka, kapal dapat merapat langsung tanpa bantuan pintu air.
  • Pelabuhan tertutup, kapal masuk harus melalui pintu air seperti dapat kita temui di Liverpool, Inggris dan terusan Panama.

b. Pelayanannya

  • Pelabuhan Umum, diselenggarakan untuk kepentingan masyarakat yang secara teknis dikelola oleh Badan Usaha Pelabuhan (BUP).
  • Pelabuhan Khusus,dikelola untuk kepentingan sendiri guna menunjang kegiatan tertentu, baik instansi pemerintah, seperti TNI AL dan Pemda Dati I/Dati II, maupun badan usaha swasta seperti, pelabuhan khusus PT BOGASARI yang digunakan untuk bongkar muat tepung terigu.

c. Lingkup Pelayaran

  • Pelabuhan Internasional Hub, utama primer yang melayani nasional dan internasional dalan jumlah besar. dan merupakan simpul dalam jaringan laut internasional.
  • Pelabuhan International, utama sekunder yang melayani nasional maupun internasional dalam jumlah besar yang juga menjadi simpul jaringan transportasi laut internasional.
  • Pelabuhan Nasional, utama tersier yang melayani nasional dan internasional dalam jumlah menengah.
  • Pelabuhan Regional,pelabuhan pengumpan primer ke pelabuhan utama yang melayani secara nasional.
  • Pelabuhan Lokal, pelabuhan pengumpan sekunder yang melayani lokal dalam jumlah kecil.

d.Perdagangan Luar Negeri

  • Pelabuhan Ekspor
  • Pelabuhan Impor

e.Kapal yang Diperbolehkan Singgah

  • Pelabuhan Laut, Pelabuhan yang boleh dikunjungi kapal negara-negara sahabat.
  • Pelabuhan Pantai, pelabuhan yang hanya boleh dikunjungi kapal nasional.

f.Wilayah Pengawasan Bea Cukai

  • Custom port, adalah wilayah dalam pengawasan bea cukai.
  • Free port. adalah wilayah pelabuhan yang bebas diluar pengawasan bea cukai.

g.Kegiatan Pelayarannya

h. Peranannya

  • Transito, pelabuhan yang mengerjakan kegiatan transhipment cargo, seperti Pelabuhan Singapura.
  • Ferry, pelabuhan yang mengerjakan kegiatan penyebrangan, seperti Pelabuhan Merak.


Kata pelabuhan laut digunakan untuk pelabuhan yang menangani kapal-kapal laut. Pelabuhan perikanan adalah pelabuhan yang digunakan untuk berlabuhnya kapal-kapal penangkap ikan serta menjadi tempat distribusi maupun pasar ikan.

Klasifikasi pelabuhan perikanan ada 3, yaitu: Pelabuhan Perikanan Pantai, Pelabuhan Perikanan Nusantara, dan Pelabuhan Perikanan Samudera.

Di bawah ini hal-hal yang penting agar pelabuhan dapat berfungsi:

  • Adanya kanal-kanal laut yang cukup dalam (minimum 12 meter)
  • Perlindungan dari angin, ombak, dan petir
  • Akses ke transportasi penghubung seperti kereta api dan truk.
from: http://id.wikipedia.org/wiki/Pelabuhan#Pelabuhan_utama_dunia BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Manajemen Perikanan Tangkap

Pengantar

Manajemen perikanan merupakan tantangan sekaligus kewajiban mengingat secara alamiah Indonesia sebagai negara kepulauan dikaruniai potensi sumber daya perikanan yang cukup. Manajemen dimaksud mencakup manajemen komponen biofisik ekosistem dan manajemen kegiatan perikanan.

Perikanan tangkap sebagai sistem yang memiliki peran penting dalam penyediaan pangan, kesempatan kerja, perdagangan dan kesejahteraan serta rekreasi bagi sebagian penduduk Indonesia perlu dikelola yang berorientasi pada jangka panjang (sustainability management). Tindakan manajemen perikanan tangkap adalah mekanisme untuk mengatur, mengendalikan dan mempertahankan kondisi sumber daya ikan pada tingkat tertentu yang diinginkan. Salah satu kunci manajemen ini adalah status dan tren aspek sosial ekonomi dan aspek sumber daya. Data dan informasi status dan tren tersebut baik dikumpulkan secara rutin (statistik) maupun tidak rutin (riset) sekaligus digunakan untuk validasi kebijakan dan menjejak kinerja manajemen.


Manajemen dapat berupa jumlah dan ukuran ikan yang ditangkap serta waktu melakukan penangkapan. Beberapa pendekatan yang dilaksanakan antara lain penutupan daerah atau musim penangkapan, pemberlakuan kuota penangkapan, pembatasan jumlah kapal dan alat perikanan tangkap.

Secara umum opsi tindakan manajemen merupakan aturan-aturan yang bersifat teknis, bersifat pengendalian upaya penangkapan, bersifat pengendalian hasil tangkapan, pengendalian ekosistem dan pendekatan manajemen basis hak. Opsi dan kombinasi opsi dari hal tersebut disesuaikan dengan kondisi perikanan dan kepentingan pemangku kepentingan.

Isu Perikanan Tangkap

Pemanfaatan berlebih pada sumber daya yang terbatas, pengoperasian alat tangkap yang merusak, konflik dan sistem regulasi yang tidak memadai merupakan kontributor dalam menunjang kerusakan sumber daya perikanan.

Manajemen perikanan tangkap saat ini tidak cukup hanya dengan mempertimbangkan spesies target atau populasi yang berkelanjutan, namun pemanfaatan sumber daya hayati yang berkelanjutan dapat dicapai jika dampak ekosistem terhadap sumber daya hayati dan dampak perikanan terhadap ekosistem dapat diidentifikasi secara jelas. Dengan kata lain, hal ini disebut sebagai pendekatan ekosistem terhadap manajemen perikanan tangkap (EAF).

Pengendalian perikanan tangkap masih diabaikan sehingga pada daerah dengan tren hasil tangkapan rata atau menurun dibarengi dengan hasil tangkapan per nelayan dan ukuran ikan yang menurun pula. Hal ini mengarah kepada perikanan tangkap berlebih yang selanjutnya sering terjadi konflik diantara pemanfaatan sumber daya.

Tantangan

Salah satu elemen penting dalam manajemen perikanan tangkap adalah data dan informasi yang benar. Kewajiban pengisian log-book dan statistik belum memberikan gambaran yang sesungguhnya.

Manajemen bersama melalui manajemen regional seperti CSBT, IOTC dan WCPFC diperlukan seiring dengan meningkatnya penangkapan di highsea (kawasan luar ZEE).

Kesadaran konsumen mengenai food safety mendorong adanya persyaratan khusus dan sertifikasi terhadap ikan dan produk ikan. Perkembangan lain adalah kecenderungan negara di kawasan tertentu membentuk blok perdagangan regional. Hal ini perlu disikapi oleh pemangku kepentingan dan difasilitasi Pemerintah.

Globalisasi merupakan permasalahan pembangunan perikanan tangkap sejalan dengan tata ekonomi dan politik dunia. Di sisi lain, otonomi dan demokratisasi merupakan permasalahan dalam negeri yang berfokus pada pengembangan perikanan kewilayahan, pemberdayaan masyarakat serta sumber pertumbuhan perekonomian.

Manajemen Perikanan Tangkap

Pengendalian perikanan tangkap dilakukan dengan aturan yang bersifat teknis, bersifat manajemen upaya penangkapan (input control) dan manajemen hasil tangkapan (output control), dan pengendalian ekosistem.

Pengaturan bersifat teknis mencakup pengaturan alat tangkap dan pembatasan daerah maupun musim perikanan tangkap. Pembatasan alat tangkap lebih pada spesifikasi untuk menangkap ikan spesies tertentu atau meloloskan ikan bukan tujuan tangkap (selektivitas alat tangkap) serta efek terhadap ekosistem. Guna melindungi komponen stok ikan diberlakukan pembatasan daerah dan musim perikanan tangkap sekaligus dibentuk fisheries refugia maupun daerah perlindungan laut (MPA) bagi jenis ikan yang kehidupannya relatif menetap.

Manajemen upaya penangkapan umumnya dilakukan dengan pembatasan jumlah dan ukuran kapal (fishing capacity), jumlah waktu penangkapan (vessel usage) atau upaya penangkapan (fishing effort). Pengendalian ini lebih mudah dan lebih murah dari sisi pemantauan dan penegakan aturan dibandingkan pengendalian hasil tangkapan. Namun penentuan jumlah upaya masing-masing unit penangkapan merupakan hambatan dalam memakai aturan pengendalian ini.

Manajemen hasil tangkapan untuk membatasi jumlah hasil tangkapan yang diperbolehkan bagi suatu area dalam waktu tertentu (total allowable catches) dan selanjutnya menjadi pembatasan jumlah hasil tangkapan setiap unit penangkapan. Hasil tangkapan yang diperbolehkan berdasarkan jenis spesies tertentu menjadi kendala dalam perikanan multispesies seperti di Indonesia. Pengendalian upaya penangkapan dan hasil tangkapan disebut sebagai direct conservation measures dan dapat dilaksanakan melalui persyaratan perijinan, pengurangan kapasitas penangkapan dan manajemen hasil tangkapan. Pengendalian ekosistem dilaksanakan dengan modifikasi habitat atau pengendalian populasi.

Era baru sektor perikanan dalam konteks pembangunan yang berkelanjutan adalah diadosinya code of conduct for responsible fisheries (CCRF). Perikanan yang berkelanjutan bukan ditujukan semata hanya pada kelestarian perikanan dan ekonomi namun pada keberlanjutan komunitas perikanan yang ditunjang oleh keberlanjutan institusi. Disini diperlukan pendekatan manajemen yang inovatif dan alternatif untuk mencapai tujuan tersebut.

Terkait dengan perikanan tangkap, setidaknya terdapat 5 hal penting sebagai implementasi CCRF yakni manajemen perikanan, operasi penangkapan, kegiatan perikanan tangkap yang melanggar hukum, tidak dilaporkan dan tidak diatur (IUU), pendekatan ekosistem (EAF) dan indikator keberlanjutan. Manajemen perikanan sendiri mempunyai 4 sasaran yang akan dicapai yakni sasaran biologi (kontinuitas produktivitas), ekologi (minimasi dampak terhadap lingkungan), ekonomi (peningkatan pendapatan) dan sosial (peningkatan kesempatan kerja).

Khusus mengenai manajemen perikanan tangkap tergantung pada kemampuan sistem manajemen dalam mengontrol upaya penangkapan secara biologi maupun ekonomi tanpa mengabaikan tanggungjawab terhadap sumber daya, lingkungan, keamanan pangan, awak kapal, kualitas produk serta pengembangan daerah.

Dengan demikian, beberapa hal perlu ditingkatan sesuai dengan kaidah perikanan berkelanjutan sebagai berikut:

  • Paradima limited access harus ditingkatkan;
  • Implementasi log-book penangkapan harus dibarengi dengan peraturan yang berkaitan dengan kerahasiaan;
  • Perbaikan sistem statistik perikanan;
  • Meningkatkan kemampuan diplomasi internasional;
  • Penyusunan rencana manajemen perikanan diterapkan di setiap upaya manajemen perikanan;
  • Partisipasi pemangku kepentingan diperlukan dalam penyusunan rencana manajemen perikanan;
  • Meningkatkan efektifitas peradilan perikanan; dan
  • Meningkatkan peran sebagai negara pelabuhan (port state) dan negara bendera (flag state).

Penutup

Implementasi manajemen perikanan tangkap harus dibarengi dengan dukungan regulasi, sosialisasi aturan dan aksi manajemen serta MCS. Model manajemen bervariasi menurut wilayah disesuaikan dengan kepentingan pemangku kepentingan mengacu pada tujuan yang disepakati bersama. Tentu saja semua ini perlu kontribusi semua pemangku kepentingan dalam kerangka legal yang jelas.

from: http://www.stp.dkp.go.id

BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

oseanografi

Oseanografi terdiri dari dua kata: oceanos yang berarti laut dan graphos yang berarti gambaran atau deskripsi (bahasa Yunani). Secara sederhana kita dapat mengartikan oseanografi sebagai gambaran atau deskripsi tentang laut. Dalam bahasa lain yang lebih lengkap, oseanografi dapat diartikan sebagai studi dan penjelajahan (eksplorasi) ilmiah mengenai laut dan segala fenomenanya. Laut sendiri adalah bagian dari hidrosfer. Seperti kita ketahui bahwa bumi terdiri dari bagian padat yang disebut litosfer, bagian cair yang disebut hidrosfer dan bagian gas yang disebut atmosfer. Sementara itu bagian yang berkaitan dengan sistem ekologi seluruh makhluk hidup penghuni planet Bumi dikelompokkan ke dalam biosfer.

Sebelum melangkah pada uraian yang lebih jauh, mungkin ada di antara anda yang bertanya: "Apa bedanya oseanografi dan oseanologi?" Kalau kita melihat pada beberapa ensiklopedia yang ada, oseanografi dan oseanologi adalah dua hal yang sama (sinonim). Namun, dari beberapa sumber lain dikatakan bahwa ada perbedaan mendasar yang membedakan antara oseanografi dan oseanologi. Oseanologi terdiri dari dua kata (dalam bahasa Yunani) yaitu oceanos (laut) dan logos (ilmu) yang secara sederhana dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang laut. Dalam arti yang lebih lengkap, oseanologi adalah studi ilmiah mengenai laut dengan cara menerapkan ilmu-ilmu pengetahuan tradisional seperti fisika, kimia, matematika, dll ke dalam segala aspek mengenai laut. Anda tinggal pilih, mau setuju dengan pendapat pertama atau kedua.

Secara umum, oseanografi dapat dikelompokkan ke dalam 4 (empat) bidang ilmu utama yaitu: geologi oseanografi yang mempelajari lantai samudera atau litosfer di bawah laut; fisika oseanografi yang mempelajari masalah-masalah fisis laut seperti arus, gelombang, pasang surut dan temperatur air laut; kimia oseanografi yang mempelajari masalah-masalah kimiawi air laut dan yang terakhir biologi oseanografi yang mempelajari masalah-masalah yang berkaitan dengan flora dan fauna di laut.

Studi menyeluruh (komprehensif) mengenai laut dimulai pertama kali dengan dilakukannya ekspedisi Challenger (1872-1876) yang dipimpin oleh naturalis bernama C.W. Thomson (berkebangsaan Skotlandia) dan John Murray (berkebangsaan Kanada). Istilah Oseanografi sendiri digunakan oleh mereka dalam laporan yang diedit oleh Murray. Murray selanjutnya menjadi pemimpin dalam studi mengenai sedimen laut. Keberhasilan dari ekspedisi Challenger dan pentingnya ilmu pengetahuan tentang laut dalam perkapalan/perhubungan laut, perikanan, kabel laut dan studi mengenai iklim akhirnya membawa banyak negara untuk melakukan ekspedisi-ekspedisi berikutnya. Organisasi oseanografi internasional pertama adalah The International Council for the Exploration of the Sea (1901).

Di Indonesia sendiri terdapat beberapa lembaga penelitian dan perguruan-perguruan tinggi dalam bidang kelautan. Salah satu lembaga penelitian kelautan yang tertua di Indonesia adalah Lembaga Oseanologi Nasional, yang berada di bawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (disingkat menjadi LON-LIPI) yang kini telah berubah namanya menjadi Pusat Penelitian Oseanografi. Cikal bakal dari lembaga penelitian ini dulu bernama Zoologish Museum en Laboratorium te Buitenzorg yang didirikan pada tahun 1905.

Bahan bacaan:

* http://www.answers.com/topic/oceanography
* OceanLink

Written By : oseanografi.blogspot.com BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

oseanografi pasang-surut

Pasang surut laut adalah gelombang yang dibangkitkan oleh adanya interaksi antara bumi, matahari dan bulan. Puncak gelombang disebut pasang tinggi dan lembah gelombang disebut pasang rendah. Perbedaan vertikal antara pasang tinggi dan pasang rendah disebut rentang pasang surut (tidal range). Periode pasang surut adalah waktu antara puncak atau lembah gelombang ke puncak atau lembah gelombang berikutnya. Harga periode pasang surut bervariasi antara 12 jam 25 menit hingga 24 jam 50 menit.

Terdapat tiga tipe dasar pasang surut yang didasarkan pada periode dan keteraturannya, yaitu pasang surut harian (diurnal), tengah harian (semi diurnal) dan campuran (mixed tides). Dalam sebulan, variasi harian dari rentang pasang surut berubah secara sistematis terhadap siklus bulan. Rentang pasang surut juga bergantung pada bentuk perairan dan konfigurasi lantai samudera.

Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, yaitu sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari.

Pasang surut purnama (spring tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari berada dalam suatu garis lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang tinggi yang sangat tinggi dan pasang rendah yang sangat rendah. Pasang surut purnama ini terjadi pada saat bulan baru dan bulan purnama.

Pasang surut perbani (neap tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari membentuk sudut tegak lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang tinggi yang rendah dan pasang rendah yang tinggi. Pasang surut perbani ini terjadi pasa saat bulan 1/4 dan 3/4.

Pengetahuan tentang pasang surut sangat diperlukan dalam transportasi laut, kegiatan di pelabuhan, pembangunan di daerah pesisir pantai, dan lain-lain. Karena sifat pasang surut yang periodik, maka ia dapat diramalkan. Untuk meramalkan pasang surut, diperlukan data amplitudo dan beda fasa dari masing-masing komponen pembangkit pasang surut. Seperti telah disebutkan di atas, komponen-komponen utama pasang surut terdiri dari komponen tengah harian dan harian. Namun demikian, karena interaksinya dengan bentuk (morfologi) pantai dan superposisi antar gelombang pasang surut komponen utama, akan terbentuklah komponen-komponen pasang surut yang baru.

BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...