Pencari Senyum. Diberdayakan oleh Blogger.

-

slide photo

Entri Populer

Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan

Minggu, 20 Maret 2011

FAKTA TERBARU DAMPAK GLOBAL WARMING BERDAMPAK PADA UKURAN ( SIZE) IKAN.

Hasil penelitian Oleh Martin Daufresne ,Mengungkapkan Bahwa Ikan telah Kehilangan Sebagian Bobot Tubuhnya akibat perubahan iklim ,Ukuran (size) merupakan karakteristik dasar yang berhubungan langsung dengan sebagaian besar fungsi biologis,seperti kesuburan dan kemampuan untuk bereproduksi.dengan mengabaikan factor lainya.
Penelitian Yang dipublikasikan dalam Proceedings Of The National Academy of sciences itu membuktikan temperature secara nyata memainkan peran utama dalam mendorong perubahan dalam struktur ukuran populasi dalam komunitas.
Banyak Jenis ikan mengubah wilayah geografis dan migrasi serta pola kembang biak mereka dalam sebagai respon terhadap kenaikan temperatur air. Dauferesme telah menguji dengan metode survey dalam jangka waktu yang lama di sungai , aliran sungai dan di laut Baltik dan laut utara serta melakukan penelitian terhadap bakteri dan plankton .
Penelitian dari daufresmen juga menemukan beberapa spesies ikan telah kehilangan 50% dari rata-rata bobot tubuhnya lebih dari 20-30 tahun yang lalu, begitupun dengan rata-rata tangkapan yang turun hingga 60 %.
Bisakah Penelitian Ini dilakukan Oleh Mahasisiwa dengan Fakta terbaru Jenis Ikan banyak yang mengubah wilayah geografis dan migrasi dengan salah satu judul
Dampak perubahan wilayah migrasi dan geografi terhadap daerah penangkapan di Perairan Spormonde ?? Dan Juga Menentukan Wilayah Geografis dan migrasi Ikan Jenis Tuna sirip kuning dengan perubahan Global Warming Di Teluk Bone Makassar.
Pertanyaan dari Fakta terbaru Ini…
Apakah Peruhan Ukuran bobot Jenis ikan hasil tangkapan Dipengaruhi oleh Banyaknya Upaya Penangkapan Atau Pengaruh dari Pemanasan Global ( Global Warming) ???
Mohon Dibalas….Bagi yang Mempunyai Kepampuan Dan Wewenang Dalam Permasalah Ini Makasih
Salam…Dan terimah kasih..

SUDARMAN FISHERY UNHAS MAKASSAR BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Sabtu, 19 Maret 2011

Tahun 2011, ekspor rumput laut bisa tumbuh 57,89%


JAKARTA. Ekspor sepertinya bakal terus menggeliat pada . Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan volume ekspor sebanyak 180.000 ton naik 57,89% dari realisasi tahun lalu yang sebanyak 114.000 ton. Dari sisi nilai juga bakal naik menjadi US$ 190 juta dari nilai ekspor tahun lalu yang sebesar US$ 138 juta.

Victor Nikijuluw, Sekretaris Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (DJP2HP) mengatakan, kenaikan target ekspor tersebut setidaknya disebabkan 3 faktor. Pertama, permintaan dunia atas sangat tinggi. Di China misalnya, jumlah pabrik pengolahan telah mencapai 600 pabrik.

Kondisi ini otomatis bakal mengerek permintaan di sana. “Tahun lalu saja kita memasok 85% kebutuhan China,” ujar Victor, (4/1).

Kedua, produksi negara-negara penghasil terutama di kawasan Amerika Latin seperti Chili terhambat akibat badai La Nina. Victor bilang pasokan dari sana menurun drastis sejak awal tahun lalu. Akibatnya, banyak permintaan yang biasanya dipenuhi Chili menjadi tidak terpenuhi. “Ini bakal jadi peluang pasar baru bagi kita,” jelasnya.

Di sisi lain, produksi tahun 2010 sebanyak 3,082 juta ton melampaui target awal yang sebanyak 2,574 juta ton. Di , produksi ditargetkan sebanyak 3,504 juta ton. “Dengan produksi sebanyak ini, kita optimis ekspor juga bakal terus meningkat,” ujar Victor.

KKP juga bakal melebarkan tujuan ekspor . Selama ini, tujuan ekspor hanya ke China dan sebagian ke Filipina. Mulai tahun ini, pemerintah juga mulai melirik pasar Eropa dan Amerika Serikat. “Permintaan dari sana juga sudah mulai bagus,” ujar Victor.

Untuk menambah nilai tambah nasional, pemerintah berencana membatasi ekspor mentah pada tahun 2012 mendatang. Selama ini, ekspor sekitar 80%-nya dalam bentuk mentah. Ke depannya pemerintah bakal membatasi ekspor tersebut, sekaligus menggenjot industri pengolahan nasional.

Arman Arfah, Asosiasi Petani & Pengelola (Aspperli), mengatakan KKP sebaiknya jangan terlalu muluk-muluk menetapkan kenaikan produksi maupun ekspor. Menurutnya, banyak hambatan seperti cuaca ekstrem yang menghadang petani dan pengusaha dalam membudidayakan .

Sejak tahun lalu, eksportir nasional kerap kesulitan mendapatkan sebagai bahan baku ekspor karena di beberapa daerah banyak yang gagal panen. “Saya harap pemerintah lebih realistis menetapkan target. Lihat juga kondisi lapangan,” kata Arman. Meski begitu, Bayu mengingatkan dalam melaksanakan ISPO ini setidaknya ada 4 tantangan yang harus dihadapi.

BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...

Jumat, 18 Maret 2011

Permintaan tinggi, ekspor udang bakal naik 27,92%JAKARTA. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan nilai ekspor udang tahun ini bisa menca


JAKARTA. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan nilai ekspor udang ini bisa mencapai US$ 1,315 miliar, naik 27,92% dibandingkan 2010 yang sebanyak US$ 1,028 miliar.

Saut Hutagalung, Direktur Pemasaran Luar Negeri KKP mengatakan, target ini didasarkan pada tingginya permintaan udang di beberapa negara terutama Jepang dan . Jepang sebagai salah satu tujuan utama ekspor, terus meningkatkan permintaannya dari ke . “Permintaan dari sana terutama untuk jenis udang windu,” ujar Saut kepada KONTAN, Rabu (23/2).

, sebagai negara populasi terbesar di dunia, juga meningkatkan permintaannya. Saut bilang, ini Cina membutuhkan sekitar 1 juta ton udang. Ini terkait meningkatnya konsumsi udang di sana. Pemerintah juga kian memacu industri pengolahan udangnya, akibatnya permintaan dari sana semakin tinggi.

Ini bakal menjadi peluang bagi untuk mengekspor udangnya ke sana. “Kalau kita bisa ekspor 300.000 ton saja ke sana, target ekspor ini tidak akan sulit tercapai,” kata Saut.

Untuk mencapai target itu, KKP juga ancang-ancang menjalin kerjasama pemasaran importir . Ini penting untuk mempermudah akses masuknya udang asal ke pasar .

Selain memacu ekspor ke , pasar-pasar utama udang seperti Amerika Serikat (AS), Jepang dan Eropa akan tetap dipertahankan. “Negara-negara itu pasar tradisional ekspor udang kita,” jelas Saut..

Kondisi inilah yang berpotensi menghambat kinerja ekspor udang ini. Saut bilang, kebutuhan industri pengolahan udang ini sebenarnya sangat banyak yaitu sekitar 470.000 ton. Melihat produksi udang lalu, jelas industri pengolahan nasional kekurangan bahan baku.

Saut bilang, ekspor udang terutama untuk produk olahannya itu tidak akan pernah lesu, karena permintaannya terus tinggi. “Kini, semuanya tergantung pada sisi produksinya,” kata Saut.

Sebelumnya, Ketut Sugama, Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Perikanan Budidaya KKP, menyatakan produksi udang ini ditargetkan sebesar 450.000 ton, naik 27,62% dibandingkan realisasi lalu. Untuk itu, KKP kian gencar membuat program untuk mengatasi virus IMNV.

Iwan Sutanto, Ketua Shrimp Club (SCI), menambahkan penambak juga optimistis dapat mengatrol produksi udang ini. Faktor stimulus akibat melonjaknya udang menjadi alasannya.

Seperti diberitakan KONTAN (18/2), udang jenis vanname Februari ini mencapai rekor tertinggi dalam 10 terakhir yaitu mencapai Rp. 50.000-Rp. 60.000 per kg.

Padahal, di waktu normal udang paling banter bertengger di kisaran Rp. 37.000-Rp. 38,000/kg. “Ini menjadi stimulus bagi kita untuk memacu produksi, karena penambak bisa mendapatkan margin keuntungan yang lebih besar,” ujar Iwan kepada KONTAN, beberapa waktu lalu.

BacaSelengkapnya...

BacaSelengkapnya...